Catatan Lepas Seorang Cewek Praktisi Humas

•Juli 4, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Saya barusan menerima kiriman email dari rekan humas PLN Batam. Dia saya rasa sedang mengeluarkan uneg-unegnya lewat surat elektroniknya. Doa saya, mudah-mudahan dia baik-baik saja. Email yang ia tulis, menggugah saya untuk memberikan sebuah komentar.

Sebab rupanya, masih banyak individu yang menganggap profesi kehumasan, profesi yang harus mengedepankan seorang sosok cantik. Berbeda dengan penafsiran saya. Cantik sih boleh, tapi maaf dia harus cantik luar dalam.

Bagi saya, seorang PR tak perlu ganteng atau cantik. Seorang PR dia bisa bermodal cekak, atau pas-pasan. Hal yang mesti dipahami seorang PR handal, cuma satu kalimat. Setelah ini, ide gila apa lagi ya…? Jika itu bisa dilakoninya secara berulang, tidak tertutup kemungkinan ia akan dianggap berhasil dalam bekerja.

Ini soal kecantikan. Saya punya pengalaman pribadi yang menarik. Saya pernah menjumpai seorang praktisi humas sebuah perusahaan berkelas di Pekanbaru yang menurut saya dia jago. Kenapa, karena wajahnya nggak cantik-cantik amat. Cantikan istri saya, hemat gue. Tetapi, dia kreatif. Inner beutynya keluar, saat dia memberikan sebuah pemahaman atas sebuah permasalahan kepada saya. Lha, yang cantik sekarang yang mananya? Kecantikan wajah, atau rasa yang saya rasakan…?

Menjadi praktisi humas, secara pribadi memang bertolak belakang dengan prilaku manusia yang memiliki rasa idealisme didalam dirinya. Bayangkan, sesuatu hal yang menurutnya janggal, sesuai SOP, dia harus menjelaskan secara runut persoalan B. Artinya, ia harus mampu melakukan sebuah rekayasa permasalahan. Lha, apakah dalam hal-hal seperti ini, kecantikanlah yang harus di tonjolkan?

Ilustrasi lain begini. Seorang pejabat humas, dalam sebuah forum tengah dicecar oleh public tentang kinerja lembaganya. Dia cantik. Tapi dalam forum itu, ia hanya bisa senyum alias tebar pesona. Sama sekali ia tidak bisa mengendalikan audiens. Lantas, apakah dengan perbuatannya ia bisa membangun citra perusahaannya. Saya rasa tidak. Justru perusahaannya akan rugi, karena menurut audiensnya, si anu hanya bisa nampang doang. Nggak smard sama sekali.

Justru saya salut dengan guru tua waktu saya MDA dulu. Dia orang miskin. Tapi dia disegani di seantero kampung. Modalnya cuma memberikan salam, dan menanyakan kondisi orang yang ia jumpai. Pertanyaan dan jawaban yang ia berikan ikhlas. Orang sama sekali tidak melihatnya sedang basa-basi. Saya anggap PR yang berhasil. Semua orang kampung juga bilang begitu. Sejelek apapun anggapan orang terhadap dia, dia tetap datar menanggapinya. Saya melakukan ini karena Allah,SWT. Begitu jawab dia.

Oleh karena itu, cantik bukan jaminan sebuah lembaga bisa membangun kepentingannya. Seperti ikon semen padang. Kita harus bisa berbuat, ketika orang lain masih memikirkannya. Pertanyaannya, apakah boss kita sanggup? Ide gila itu, tidak hanya gila hasilnya, tetap juga mahal bung..!

*****************
Ini Dia Surat Elektronik Kawan Praktisi Humas Itu

Belakangan saya merasa sangat tertarik untuk mengungkap fenomena seperti yang tertera dalam artikel tulisan saya dibawah ini. Moga2 bisa jadi bahan share untuk kita-kita dan kedepan makin banyak pengurus dan anggota yang mulai tertarik untuk mengungkapkan hal-hal seputar PR lewat sebuah tulisan.

Siapa Bilang PR harus Wanita Cantik

Sebagai salah satu wanita yang ‘bergelut’ dalam dunia ke ‘PR’-an di Batam, saya kok ya tiba2 merasa sangat tertarik (baca=terpanggil) untuk menulis tentang fenomena PR dan wanita cantik. Kenapa begitu ? karena sejujurnya saya sering kali mendengar – sampai kuping panas bahkan… bahwa somehow, status saya sebagai wanita seringkali dianggap sebagai nilai plus dalam menjalankan profesi PR dibandingkan dengan temen2 PR lainnya yang kebetulan berjenis kelamin pria. Sehingga keberhasilan saya (kalau memang ada) dalam menjalankan strategi PR lebih dipersepsikan dan dikarenakan saya seorang PR wanita bukan karena saya PR yang handal.

Sebenarnya apa saja sih yang dibutuhkan dari seorang PR ?

Sejak reformasi di dengungkan dan semakin meningkatnya sensitivitas masyarakat terhadap pemberitaan media, berbagai perusahaan – dari pemerintahan, BUMN, hotel sampai lembaga pendidikan dan organisasi sosial seakan-akan berlomba-lomba membentuk Divisi Public Relations, Humas, atau Corporate Communication Division untuk membentuk citra perusahaan atau yang lebih ekstremnya jadi ‘pemadam kebakaran’. Sayangnya, meskipun PR merupakan profesi yang dinamis dan kreatif, kadang masih ada yang berpendapat bahwa seorang PR hanya mengandalkan wajah cantik dan senyum manis dalam bekerja.

Mitos
PR = beautiful girls in skirt

Dalam buku yang sempat menghebohkan industri komunikasi dan advertisisng : The Fall of Advertising and The Rise of PR, Al Rise dan Laura Ries menyebutkan bahwa “ PR merupakan fungsi manajemen yang menggunakan perencanaan dalam melaksanakan program untuk menghasilkan persepsi yang baik tentang sebuah subjek dari masyarakat. Ini membuktikan bahwa pekerjaan PR merupakan pekerjaan serius, konsisten, terus-menerus, tidak kenal waktu dan kadang menjadi sangatmelelahkan.

Untuk menciptakan sebuah persepsi yang baik terhadap perusahaan, objek maupun individu, sehingga dapat diterima masyarakat, seorang PR harus dapat memahami karakter orang lain dan sensitive terhadap kejadian disekitarnya. Seorang PR juga dituntut untuk tahu kapan dan bagaimana harus berkomunikasi.

Bayangkan jika seorang PR wanita sebuah perusahaan listrik di Batam yang juga seorang istri dan ibu harus siap menerima setiap keluhan pelanggan pada jam berapa pun, pukul 2, 3, bahkan 4 subuh dan harus selalu siaga turun kelapangan at any time and any cost jika terjadi gangguan listrik ke pelanggan sesuai dengan SOP perusahaan.

Jadi sebaiknya mari kita sama-sama jauhkan anggapan bahwa PR itu harus wanita cantik, tinggi, wangi, seksi, punya senyum maniiiiissssss banget, pake’ rok pendek dan sepatu high heels (hak tinggi) karena pasti capek mondar-mandirnya, trust me guys…….

Dan bagi wanita-wanita yang berprofesi sebagai PR yang kebetulan memiliki kelebihan seperti yang saya gambarkan diatas (cantik, seksi, wangi, punya senyum yang manis banget, dll…..) ya disyukuri saja sebagai salah satu anugerah dan nilai lebih yang tidak akan pernah dimiliki oleh pria……….

Fakta : PR is not simply looking pretty

Dari paparan saya diatas, rasanya cukup untuk menggambarkan keahlian apa yang sebenarnya dibutuhkan seseorang untuk menjadi seorang PR . Seorang PR harus belajar untuk mengerti dan sensitive terhadap karakter manusia sekaligus membaca situasi kapan dan bagaimana mengkomunikasikan sesuatu. Selain menjadi komunikator di garda depan, seorang PR juga harus mampu menjadi penulis ‘skenario kreatif’ dibelakang layar.

Berwajah cantik saja sekali lagi bukanlah merupakan syarat mutlak untuk menjadi seorang PR – meskipun hal ini merupakan nilai lebih. Coba bayangkan, betapa menyenangkannya jika kita sakit kemudian kedokter yang (kebetulan) ganteng, harum, ramah, punya senyum yang maniesssss dan tangannya halus…………pasti akan lebih mempercepat proses sugesti penyembuhan penyakit selain obat-obatan tentunya. Begitu juga dengan seorang PR yang kebetulan manis dan menyenangkan (seperti saya, hwahahahahaha….).

Cheerssss

Ade Sulistiani

Public Relations

PLN Batam

Iklan

S’pura Juga Jorok Kok…

•Juli 3, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Budaya hidup bersih memang milik orang pribadi. Seketat apapun peraturan yang diterapkan pejabat yang berkuasa, kebiasaan buang sampah itu tetap ada. Tak terkecuali di Singapura. Saat kami jalan-jalan, Sebuah kantong plastik berwarna hijau tergeletak di simpang lampu merah jalan raya menuju pusat perdagangan elektronik dan produk IT terbesar di Singapura, Sim-Lim Square Shopping Centre. Keberadaan kantong kresek itu jelas menghapus kesan, Singapura bukanlah kota yang bersih-bersih amat.

Sim Lim Square berlokasi di Rochor Canal Road, timur Singapura. Kawasan itu selama ini memang terkenal sebagai tempat untuk membeli barang elektronik dan IT. Saking banyaknya produk IT dan elektronik yang terpampang pada sejumlah outlet, Pemerintah setempat menjadikan kawasan retail itu sebagai landmark-nya Singapore untuk menjaring turis asing.

Berlibur ke Singapura memang menyenangkan. Apalagi Anda menyukai hal-hal yang berbau shopping. Tetapi jangan salah. Walaupun pemerintah setempat jor-joran mengiklankan negaranya untuk dikunjungi, kawasan koloni inggris itu tidak kalah menarik dibandingkan Johor, Malaka, KL atau Jakarta dan Bali.

Di Kota Singapura, hampir semua ruas jalan ditanami pohon pelindung yang cukup rindang. Sepanjang bahu jalan, aneka tanaman hias tumbuh subur diantara hutan beton dan jalur tol. Seolah tak ada ruang di kota ini tanpa aktifitas penghijauan yang terpelihara.

Orang Indonesia yang hendak berlibur ke Singapura, biasanya melintasi dua pintu masuk. Yakni pelabuhan laut Harbour Front dan Bandar Udara Internasional Changi. Berbeda dengan orang Malaysia, mereka cukup melintasi sebuah jembatan yang menghubungkan Johor Bahru dan Singapura.

Bagi pelancong asal Indonesia, berurusan dengan petugas imigrasi Singapura adalah sebuah pekerjaan yang menyita pikiran, terkadang was-was. Hal itu tidak hanya terjadi di bandara Changi , atau Pelabuhan Laut Internasional Harbour Front. Bayangkan, penasehat presiden RI sekelas Adnan Buyung Nasution saja, pernah tertahan di bandara Changi, karena alasan yang dibuat-buat. Kelemahan kita orang Indonesia, kemampuan berbahasa asing kita masih lemah.

Anda yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Singapura, jangan heran bila petugas imigrasi S’pura menanyakan hal yang macam-macam dalam urusan perjalanan Anda. Bayangkan hal-hal kecil yang kita anggap tak perlu saja ditanya. Misalnya soal pekerjaan dan jumlah uang yang kita bawa ke Singapura.

Ironisnya, giliran pulang, mereka acuh tak acuh saja. Bahkan petugas bea cukai setempat terkesan membiarkan “orang-orang Indonesia” pulang ke Batam dengan membawa puluhan tas plastik ukuran jumbo, yang sebagian berisikan mainan anak-anak, barang elektronik dan pakaian bekas orang S’pura.

Kendati orang Singapura pandai berbahasa Melayu, mereka lebih menyukai menggunakan dialek Inggris untuk melakukan percakapan sehari-hari. Padahal bahasa Melayu adalah bahasa nasional Singapura. Singapura sendiri sebenarnya berbatasan dengan negara/kota yang merupakan jantung peradaban Melayu yaitu Johor (Malaysia) dan Kepulauan Riau (Indonesia).

Di Singapura, budaya individual masyarakatnya cukup kental. Tengah kota dan pusat perbelanjaan, sebagian besar di dominasi oleh Ethnis keturunan Thionghoa. Hanya sedikit orang yang berwajah melayu terlihat lalu lalang di Mass Rafid Traffic (MRT) dan Light Rappid Traffic, atau tengah melakukan aktifitas ekonomi di pusat bisnis Sim-Lim Square, Kampung Bugis.

Info seorang rekan, biasanya di Orchard Road baru dijumpai beragam ethnis. Komunitas melayu asli Singapura katanya terkonsentrasi di Gelang. Dari situs wikipedia, penduduk Singapura di dominasi oleh etnis Thionghoa yaitu 77,3% . Etnis Melayu sebagai penduduk asli, jumlahnya hanya 14,1% dari total penduduk Singapura. Sisanya adalah etnis India (7,3%), dan etnis lainnya (1,3%).

Mas Selamat Kastari, pria jawa yang dicap teroris oleh polisi disana karena melarikan diri dari penjara Singapura yang ekstra ketat, gaungnya sudah mulai redup, walaupun foto mas Kastari masih di pajang dengan kalimat “Dicari”.

Leaflet pria tersebut tidak hanya mereka sebarkan di negaranya sendiri tetapi juga di ruang kapal fery internasional Batam-Singapura yang ditumpangi oleh para pejabat daerah hingga TKW dari Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Justru, koruptor kelas kakap Indonesia yang menjadi buron pemerintah termasuk presiden SBY, Samsul Nursalim aman-aman saja berlindung di negeri jiran itu. Berbeda dengan Mas Kastari, aparat keamanan Singapura tampaknya lebih agresif mencari Kastari hingga ke Indonesia, dibandingkan polisi Indonesia mencari Samsul Nursalim sampai ke S’pura.

Orang Singapura 85 persen tinggal di rumah susun atau flat. Bangunan flat ini disiapkan oleh pemerintah, mengingat luasan lahan Singapura yang sangat terbatas. Dari ujung ke ujung, daratan Singapura luasnya hanya seupil. Kegiatan ekspor pasir dari Kepri ke Singapura menyebabkan kerusakan lingkungan. Pulau Nipah di kecamatan Belakangpadang-Batam hampir tenggelam, untuk memperbaikinya pemerintah mengeluarkan Rp300 miliar. Supaya tidak hilang, baru-baru ini tim ekspedisi garis nusantara dengan kepeduliannya memasang patung tokoh proklamator RI, Soekarno-Hatta di Nipah.

Ketika melintasi Singapura melalui jalur laut, jangan heran bila Anda melihat ribuan kapal tanker ukuran besar dan kecil, lalu lalang di perairan Singapura. Kapal tersebut hanya sedikit saja yang singgah diperairan Indonesia. Yang ada malah kapal fery cepat dari Batam, yang dari deknya, kita bisa melihat dari dekat, aktifitas pengamanan laut yang ekstra ketat.

Sebelum menynggahi Harbour Front, kami pun melihat langsung sebuah tugboat yang tengah melakukan aktiftas bongkar muat pasir laut untuk menimbun kawasan wisata Pulau Sentosa. Alih-alih kami menduga, mungkin pasir laut itu dibeli perusahaan S’pura dari para cukong yang mencuri pasir laut Indonesia.

Kendati demikian, harus diakui bahwa Singapura pintar berdagang. Sebagai macan ekonomi Asia, keberadaan S’pura seolah siap menerkam ekonomi bangsa serumpunnya. Bahkan Indonesia terseok-seok menghadapi kemajuan S’pura. Padahal negara kita memiliki segalanya, termasuk gas bumi yang dibeli Singapura dari ladang gas Natuna. Tapi mengapa, ada kabar tanpa dukungan S’pura jangan harap investor bisa masuk ke Indonesia. Oleh karenanya, yuk…kita Bangkit Bangun bangsa sendiri. (*)

Sekilas Tentang Batam

•Juni 9, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kota Batam secara geografis mempunyai letak yang sangat strategis, yaitu terletak di jalur pelayaran dunia internasional. Singapura dan Malaysia yang berada di sebelah utara Kota Batam, secara ekonomi makro memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap ekonomi Batam.

Perkembangan pembangunan yang semakin pesat di Kota Batam telah menjadi daya tarik tersendiri bagi pendatang untuk mengembangkan usaha dan menyebabkan peningkatan jumlah penduduk di wilayah kecamatan dan kelurahan, yang menimbulkan kesulitan tersendiri dalam memberikan pelayanan masyarakat. Penduduk Kota Batam hingga Desember 2007 tercatat 723 ribu jiwa.

Sektor perekonomian yang dominan  menyumbangkan andil kedalam PDRB Kota Batam adalah sektor industri pengolahan, sektor perdagangan dan sektor jasa, keuangan. Sementara tenaga kerja di Batam di dominasi oleh perempuan. Pada tahun 2007 lalu dari 22.549 tenaga kerja di Batam, sebanyak 9 ribu jiwa adalah laki-laki, dan 13 ribu lebih adalah perempuan. Mereka sebagian besar bekerja di sektor manufaktur.

Tengok Video

Video Munarman, Panglima Laskar Islam yang Buronan Polisi

•Juni 5, 2008 • 16 Komentar

Munculnya Munarman, mantan ketua YLBHI yang pada saat meledaknya kasus monas diklaim sebagai Panglima Komando Laskar Islam (LKI), melalui rekaman video yang dipublish TV nasional dan situs Youtube, merupakan gaya baru dalam mengaktualisasikan kebebasan berpendapat di Indonesia.

Belajar dari tindakan Munarman, pria Sumatera asal Palembang ini berbuat bak gaya Osama Bin Ladeen, yang diburu George W Bush,presiden Amerika.

Atas masalah ini, selaku anak bangsa, sudah seharusnya semua pihak menghormati aturan hukum yang berlaku, dan dalam penegakan aturan hukum itu haruslah setiap orang harus bisa berlaku adil terhadap dirinya dan terhadap rakyat yang mereka pimpin.

Jika harapan tersebut bisa ditunaikan, dengan izin Allah SWT negara ini akan maju, dan rakyatnya akan bangga menjadi warga negara indonesia. Mudah-mudahan, amin.

Lihat Video

Pegawai Rendahan “Sakit Gigi”

•Mei 22, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

karena kami

hidup berhimpitan

dan ruangmu

berlebihan …..

maka kita

bukan sekutu..!

Sajak yang ditulis WS Rendra menyejukkan hati saya. Bagi saya, Rendra tidak sedang memikirkan diri sendiri, tetapi bersuara dan mengepakkan sayap, mewakili perasaan berjuta orang yang hidup dalam himpitan ekonomi.

Beberapa waktu lalu, gigi bungsu saya sakit lagi lebih kurang seminggu. Penyakit ini ibarat member, dianya datang sekali setahun.

Dua tahun sudah menderita penyakit ini. Saya belum putuskan untuk operasi gigi, kendati dokter sudah menyarankan. Bagi saya, operasi itu butuh biaya. Saya masih gamang atas saran dokter itu.

Setahun lalu, saya mendapat kartu asuransi jaminan kesehatan dan hari tua. Dari sebuah perusahaan asuransi “tempe”. Sebagai pemegang polis, saya bangga. Perasaan saya. “Kamu bekerja…sakit dengan asuransi, biayanya ditanggung,” begitulah kira-kira pesan sponsor sebelum perusahaan tersebut berhasil “meraup” untung atas uang premi perusahaan saya.

Karena saya sedang sakit gigi, saya cari kartu ajaib itu. Selepas mandi, mengenakan baju dan melaju dengan “motor butut” ke arah RS rujukan pihak asuransi di Jalan Seraya, Batam. Dalam “kepala hotak” saya waktu itu, pipi bengkak saya, bakal dibelai dokter gigi yang tentunya cantik… welehhh…weleh…?

Belum selesai mengkhayal, rupanya saya sudah sampai ke ruang informasi pelayanan kesehatan Rumah Sakit yang saya tuju. Dengan wajah bengkak, orang pertama yang saya cari, petugas asuransi. Saya pun bertanya ke petugas yang ada. Rupanya, petugas asuransi yang sedang saya cari ke toilet. Waktu menunggu dia “buang hajat”, gigi saya pun berdenyut ! Ampun mak Oiiii….

Malang tak bisa di tolak. Untung tak bisa di raih!

Saat petugas itu datang, saya pun mengeluarkan dompet mengambil kartu asuransi yang sejak dibagi-bagikan oleh perusahaan itu, kartu tersebut belum pernah saya gunakan. Alangkah kecewanya saya mendengarkan jawaban petugas asuransi itu.

Dengan entengnya dia bilang; “Maaf pak, kami tak bisa mengklaim biaya berobat gigi bapak. Kerjasama kami dengan perusahaan bapak, hanya untuk pemberian jaminan hari tua saja. Klaim asuransi kesehatan sebagaimana bapak dengar, itu hanya bonus saja,” terang dia

Atas penjelasan itupun saya tak bisa mengeluarkan kata apa-apa. Niat saya untuk memeriksakan gigi saya yang semakin sakit, langsung sirna. Saya pun meminta kartu asuransi ditangan petugas itu, dan pulang meninggalkan ruang tersebut menuju tempat parkir. “Ya, udahlah mbak…jangan jelaskan lagi’ jawab saya.

Bingung dengan kondisi yang ada, saya pun melaju meninggalkan rumah sakit tersebut dengan motor. Tujuan saya satu, ke puskesmas terdekat. Di daerah Sungai Panas. Saya putuskan itu karena saya tahu, berobat ke puskesmas milik pemerintah, gratis karena biaya berobat warga di subsidi dengan uang pajak rakyat.

Setelah melintasi jalan yang panas, tibalah di Puskesmas itu. Saya parkirkan motor, dan mendaftarkan diri ke petugas penerima pasien.

Lagi-lagi, keinginan saya terbentur tembok. Petugas penerima pasien mengatakan, poli gigi di Puskesmas itu sudah tutup. Katanya saya datang terlambat. Padahal jarum jam di tangan saya baru menunjukkan pukul 10.30 Wib.

Kecewa dengan jawaban petugas, naluri investigasi saya pun muncul. Saya harus pergi ke ruang praktik dokter gigi itu untuk mencari tahu jawaban yang saya terima. Memang benar. Ruang poli gigi Puskesmas, kosong tak satupun dijaga perawat gigi atau dokter. Padahal, waktu itu masih terhitung jam kerja.

Saat menunggu, tak lama berselang saya melihat petugas kesehatan Puskesmas masuk ke ruang itu. Saya pun bertanya. Kenapa poli gigi puskesmas itu cepat tutup. Sebagai petugas medis berstatus PNS, jawaban yang saya terima nyaris sama. Sungguh mengecewakan.

“ Maaf pak, Sekedar konsultasi sinilah….” Kata seorang perawat tempat saya bertanya. Saya pun tak mengenal dia. Yang jelas, dia mau melayani saya, mungkin karena saya mengaku sudah tak tahan lagi menahan sakit. “tolong lah buk…. periksa sikit keluhan saya, setelah itu kasih saya resep obatnya aja….” ungkap saya menghamba.

Selesai perawat yang tak saya kenal itu mendiagnosa penyakit saya lebih kurang 2 menit, saya diberi kertas putih berisikan catatan obat untuk ditebus ke apotik puskesmas. Dia sengaja tak mau memeriksa kondisi penyakit saya lebih detail, karena katanya PLN padam.

Kertas itu saya ambil, lantas saya ke apotik yang disebutkan. Ditempat itu saya melihat, banyak orang yang berpakaian lusuh. Pikir saya, mereka juga senasib dengan saya. Berobat ke Puskesmas karena tak sanggup menanggung biaya berobat di dokter praktik atau ke rumah sakit.

Soal mendapatkan pelayanan yang bagus atau tidak, itu urusan nanti. “ Ya udahlah.. amoxilin, amoxilinlah. Yang penting obat ini gratis,” sebut saya menghibur diri.

Kendati kini, sakit yang saya alami tidak lagi separah dulu, saya sebenarnya masih tetap menyimpan banyak kecewa. Kekecewaan pertama, kenapa asuransi kesehatan saya dibatasi, dan yang kedua, kenapa sebagai seorang pegawai, dokter atau perawat gigi di Puskesmas pemerintah, pegawainya tak lagi mau bekerja seperti sumpah aparatur pemerintah yang mereka ucapkan? Kalau memang demikian adanya, kenapa mereka memutuskan diri untuk menjadi pelayan masyarakat?

Ueeeck… ya udahlah. Yang jelas informasi yang saya alami itu, sudah saya tuangkan ditulisan ini. Anda mau menilainya seperti apa, itu terserah! Yang jelas, seseorang di Puskesmas itu dengan entengnya mengatakan kepada saya, lebih baik mereka diam daripada “mengotak-otik” mulut pasien dengan imbalan “gratis”. “Siapa yang mau pinggangnya patah…” ucap dia kepada saya.

Nauzibillahiminzalik! (*)

3 Hari 2 Malam di Jakarta

•April 8, 2008 • 1 Komentar

AWAL April 2008 lalu, selama 3 hari 2 malam, saya bersama bos dan beberapa orang rekan kerja se kantor mendapat kesempatan berlibur ke Jakarta. Bagi saya, ini adalah liburan tahunan yang sangat menyenangkan setelah menjalani beragam aktifitas rutin di depan komputer kantor.

Walaupun saya lagi “Bokek”, perjalanan tersebut sungguh sangat menyenangkan. Apalagi pikir saya, ini adalah kesempatan ketiga saya melihat MONAS. Walaupun itu akhirnya pupus, karena saat saya sudah berada di areal Parkir terminal Gambir, hujan deras disertai badai petir, langsung mengguyur Jakarta. Pintu air Manggarai pun, saat saya perhatikan “nyaris” tenggelam.

Dan kejadian itu paginya menjadi sajian foto headlines Harian Kompas edisi Minggu (7/4). Malam minggu di Jakarta, akhirnya saya nikmati dengan nonton TV di kamar 812 Le Gredeur, Mangga Dua…sial !

Bagi saya, kesempatan “menengok” Monas dari dekat, adalah peristiwa yang sangat monumental. Saya merindukan itu. Rasa penasaran saya belum terobati sampai sekarang. Ada hal unik yang ingin saya lihat.Maaf itu sangat saya rahasiakan.

Jakarta, bagi saya tak pantas menyandang predikat sebagai ibu kota negara. Banyak hal yang mendasari alasan saya. Terutama soal kepadatan penduduk, dan kemacetannya. Saat bercerita dengan seorang rekan, saya nyeletuk, sebaiknya, presiden, wapres, anggota parlemen dan semua menteri, pindah saja ke Sumatera.

Misalnya ke Kepri yang bertetangga dengan Thailand, Singapura dan Malaysia. Atau pindah ke Dumai, kota minyak di Riau yang kini tengah berjuang mendapatkan status wilayah free trade seperti di Batam, Bintan dan Karimun.

“Lihat tuh. Jalan aja susah, macet kotor lagi. Belum lagi banjir. Dalam kondisi kayak gini. Logikanya gimana mau ngurus negara,” celetuk saya. Dari Soekarno Hatta ke kantor Trans TV di Mampang Prapatan, dari jam 3 sore, nyampai pas maghrib.

Wacana pindah ibu kota sebagaimana pernah saya baca di koran, saya rasa hal yang wajar. Dinamika sosial sudah sangat melilit tubuh Jakarta. Bak benang kusut, wajah Jakarta, mungkin sudah cukup sulit bila di urai. Jawabnya angkat koper dari Jakarta!.

Meniru apa yang dilakukan Malaysia, toh negara kerajaan itu tidak gagap. Mereka nekad menggelontorkan uangnya untuk membangun sebuah pusat peradaban baru, simbol pemerintahan yang bermarwah.

Sementara Jakarta. Ganti gubernur pun, kelihatannya masih sulit “dibereskan,”. Bayangkan, jembatan penyebrangan aja, bisa dilalui oleh pengendara motor. Kalau kawasan pedestrian. Itu dah biasa. Ini asli. Saya menyaksikan, seorang pengendara mobil, turun dan ngajak polisi berantam di pinggir jalan. Gileee bener.

“Ah… itu mah, biasa bos! kata kawan saya. Nanti ada lagi pak Ogah. Kapak Merah yang beroperasi di Casablanca. Bikin takut. Saya aja, nggak berani keluar malam melintasi jalan di sekitar wilayah itu. Termasuk di wilayah Ancol,” terang kawan sekolah yang kini tinggal di Cengkareng itu. (*)

Alhamdulillah, Anak dan Istriku Selamat Dari Maut

•Maret 5, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Alhamdulillah! Puji syukur kepada Allah SWT. Tuhan melindungi hambanya. Hari ini, Rabu (5/3/2007) Tuhan melindungi keluargaku. Istri dan 2 orang putriku, Azra Saujana Fadza (5) dan Dinda Saujana (1,5). Mereka selamat dari maut. Setelah motor yang mereka tumpangi, bertabrakan dengan mobil kijang Unser di simpang Seruni, Batam Centre pada pukul 11.00 Wib siang.

Mereka sempat masuk ruang Unit Gawat Darurat, RS Awal Bross, Baloi-Batam. Dokter mengklaim, anakku paling kecil, yaitu Dinda dinyatakan tidak mengalami cidera apapun. Hanya istri dan anak pertamaku, Azra yang butuh perawatan di UGD.

Istriku ada benjolan di kepala, dan dokter memberikan kami kesempatan 1 x 24 jam untuk melihat perkembangan syarat dikepala bagian belakangnya. Sementara Azra, alhamdulillah, dari hasil rontgent yang dilakukan tim dokter, tulang rusuk pada dada sebelah kanan yang diklaim dokter mengalami luka lecet, positif tidak menderita cidera berat.

Peristiwa kecelakaan yang dialami istriku ini, bermula dari niatnya ke Bank Riau di Sei Panas. Dalam perjalanan, kendaraan yang mereka tumpangi, menabrak kendaraan kijang unser yang dikendarai istri seorang bule Amrik yang tengah belok di U-Turn.

Sialnya, motor suzuki SPIN yang dikendarai adik istriku, tak bisa mengerem laju motor yang dia bawa. Mungkin karena terlambat ngerem, motor yang mereka tumpangi langsung menghantam sisi kiri mobil UNSER yang di kendarai istri bule Amrik.

Alhamdulillah, bule Amrik tersebut bersedia tanggungjawab. Dan akupun sebelumnya, mengingatkan dia bahwa kasus kecelakaan seperti ini anggap saja musibah, dan awal pertemanan yang baik.

Kami pun bersalaman, setelah 2 jam lebih ada diruang RS Awal Bross. Saya bersyukur, bule ini mau bertanggungjawab atas perbuatannya. Kalau seandainya, ia lepas tangan, matilah aku…. apalah daya. Apalagi anak dan istriku dirawat bukan di RS murahan, tapi RS mewah.

Selama perjalanan ke RS, jujur saja saya sempat pusing memikirkan biaya pengobatan mereka. Terimakasih Tuhan. Engkau telah menyelamatkan keluargaku, dan memberikan aku orang yang bertanggungjawab atas perbuatan yang ia lakukan. (*)