Catatan Lepas Seorang Cewek Praktisi Humas

Saya barusan menerima kiriman email dari rekan humas PLN Batam. Dia saya rasa sedang mengeluarkan uneg-unegnya lewat surat elektroniknya. Doa saya, mudah-mudahan dia baik-baik saja. Email yang ia tulis, menggugah saya untuk memberikan sebuah komentar.

Sebab rupanya, masih banyak individu yang menganggap profesi kehumasan, profesi yang harus mengedepankan seorang sosok cantik. Berbeda dengan penafsiran saya. Cantik sih boleh, tapi maaf dia harus cantik luar dalam.

Bagi saya, seorang PR tak perlu ganteng atau cantik. Seorang PR dia bisa bermodal cekak, atau pas-pasan. Hal yang mesti dipahami seorang PR handal, cuma satu kalimat. Setelah ini, ide gila apa lagi ya…? Jika itu bisa dilakoninya secara berulang, tidak tertutup kemungkinan ia akan dianggap berhasil dalam bekerja.

Ini soal kecantikan. Saya punya pengalaman pribadi yang menarik. Saya pernah menjumpai seorang praktisi humas sebuah perusahaan berkelas di Pekanbaru yang menurut saya dia jago. Kenapa, karena wajahnya nggak cantik-cantik amat. Cantikan istri saya, hemat gue. Tetapi, dia kreatif. Inner beutynya keluar, saat dia memberikan sebuah pemahaman atas sebuah permasalahan kepada saya. Lha, yang cantik sekarang yang mananya? Kecantikan wajah, atau rasa yang saya rasakan…?

Menjadi praktisi humas, secara pribadi memang bertolak belakang dengan prilaku manusia yang memiliki rasa idealisme didalam dirinya. Bayangkan, sesuatu hal yang menurutnya janggal, sesuai SOP, dia harus menjelaskan secara runut persoalan B. Artinya, ia harus mampu melakukan sebuah rekayasa permasalahan. Lha, apakah dalam hal-hal seperti ini, kecantikanlah yang harus di tonjolkan?

Ilustrasi lain begini. Seorang pejabat humas, dalam sebuah forum tengah dicecar oleh public tentang kinerja lembaganya. Dia cantik. Tapi dalam forum itu, ia hanya bisa senyum alias tebar pesona. Sama sekali ia tidak bisa mengendalikan audiens. Lantas, apakah dengan perbuatannya ia bisa membangun citra perusahaannya. Saya rasa tidak. Justru perusahaannya akan rugi, karena menurut audiensnya, si anu hanya bisa nampang doang. Nggak smard sama sekali.

Justru saya salut dengan guru tua waktu saya MDA dulu. Dia orang miskin. Tapi dia disegani di seantero kampung. Modalnya cuma memberikan salam, dan menanyakan kondisi orang yang ia jumpai. Pertanyaan dan jawaban yang ia berikan ikhlas. Orang sama sekali tidak melihatnya sedang basa-basi. Saya anggap PR yang berhasil. Semua orang kampung juga bilang begitu. Sejelek apapun anggapan orang terhadap dia, dia tetap datar menanggapinya. Saya melakukan ini karena Allah,SWT. Begitu jawab dia.

Oleh karena itu, cantik bukan jaminan sebuah lembaga bisa membangun kepentingannya. Seperti ikon semen padang. Kita harus bisa berbuat, ketika orang lain masih memikirkannya. Pertanyaannya, apakah boss kita sanggup? Ide gila itu, tidak hanya gila hasilnya, tetap juga mahal bung..!

*****************
Ini Dia Surat Elektronik Kawan Praktisi Humas Itu

Belakangan saya merasa sangat tertarik untuk mengungkap fenomena seperti yang tertera dalam artikel tulisan saya dibawah ini. Moga2 bisa jadi bahan share untuk kita-kita dan kedepan makin banyak pengurus dan anggota yang mulai tertarik untuk mengungkapkan hal-hal seputar PR lewat sebuah tulisan.

Siapa Bilang PR harus Wanita Cantik

Sebagai salah satu wanita yang ‘bergelut’ dalam dunia ke ‘PR’-an di Batam, saya kok ya tiba2 merasa sangat tertarik (baca=terpanggil) untuk menulis tentang fenomena PR dan wanita cantik. Kenapa begitu ? karena sejujurnya saya sering kali mendengar – sampai kuping panas bahkan… bahwa somehow, status saya sebagai wanita seringkali dianggap sebagai nilai plus dalam menjalankan profesi PR dibandingkan dengan temen2 PR lainnya yang kebetulan berjenis kelamin pria. Sehingga keberhasilan saya (kalau memang ada) dalam menjalankan strategi PR lebih dipersepsikan dan dikarenakan saya seorang PR wanita bukan karena saya PR yang handal.

Sebenarnya apa saja sih yang dibutuhkan dari seorang PR ?

Sejak reformasi di dengungkan dan semakin meningkatnya sensitivitas masyarakat terhadap pemberitaan media, berbagai perusahaan – dari pemerintahan, BUMN, hotel sampai lembaga pendidikan dan organisasi sosial seakan-akan berlomba-lomba membentuk Divisi Public Relations, Humas, atau Corporate Communication Division untuk membentuk citra perusahaan atau yang lebih ekstremnya jadi ‘pemadam kebakaran’. Sayangnya, meskipun PR merupakan profesi yang dinamis dan kreatif, kadang masih ada yang berpendapat bahwa seorang PR hanya mengandalkan wajah cantik dan senyum manis dalam bekerja.

Mitos
PR = beautiful girls in skirt

Dalam buku yang sempat menghebohkan industri komunikasi dan advertisisng : The Fall of Advertising and The Rise of PR, Al Rise dan Laura Ries menyebutkan bahwa “ PR merupakan fungsi manajemen yang menggunakan perencanaan dalam melaksanakan program untuk menghasilkan persepsi yang baik tentang sebuah subjek dari masyarakat. Ini membuktikan bahwa pekerjaan PR merupakan pekerjaan serius, konsisten, terus-menerus, tidak kenal waktu dan kadang menjadi sangatmelelahkan.

Untuk menciptakan sebuah persepsi yang baik terhadap perusahaan, objek maupun individu, sehingga dapat diterima masyarakat, seorang PR harus dapat memahami karakter orang lain dan sensitive terhadap kejadian disekitarnya. Seorang PR juga dituntut untuk tahu kapan dan bagaimana harus berkomunikasi.

Bayangkan jika seorang PR wanita sebuah perusahaan listrik di Batam yang juga seorang istri dan ibu harus siap menerima setiap keluhan pelanggan pada jam berapa pun, pukul 2, 3, bahkan 4 subuh dan harus selalu siaga turun kelapangan at any time and any cost jika terjadi gangguan listrik ke pelanggan sesuai dengan SOP perusahaan.

Jadi sebaiknya mari kita sama-sama jauhkan anggapan bahwa PR itu harus wanita cantik, tinggi, wangi, seksi, punya senyum maniiiiissssss banget, pake’ rok pendek dan sepatu high heels (hak tinggi) karena pasti capek mondar-mandirnya, trust me guys…….

Dan bagi wanita-wanita yang berprofesi sebagai PR yang kebetulan memiliki kelebihan seperti yang saya gambarkan diatas (cantik, seksi, wangi, punya senyum yang manis banget, dll…..) ya disyukuri saja sebagai salah satu anugerah dan nilai lebih yang tidak akan pernah dimiliki oleh pria……….

Fakta : PR is not simply looking pretty

Dari paparan saya diatas, rasanya cukup untuk menggambarkan keahlian apa yang sebenarnya dibutuhkan seseorang untuk menjadi seorang PR . Seorang PR harus belajar untuk mengerti dan sensitive terhadap karakter manusia sekaligus membaca situasi kapan dan bagaimana mengkomunikasikan sesuatu. Selain menjadi komunikator di garda depan, seorang PR juga harus mampu menjadi penulis ‘skenario kreatif’ dibelakang layar.

Berwajah cantik saja sekali lagi bukanlah merupakan syarat mutlak untuk menjadi seorang PR – meskipun hal ini merupakan nilai lebih. Coba bayangkan, betapa menyenangkannya jika kita sakit kemudian kedokter yang (kebetulan) ganteng, harum, ramah, punya senyum yang maniesssss dan tangannya halus…………pasti akan lebih mempercepat proses sugesti penyembuhan penyakit selain obat-obatan tentunya. Begitu juga dengan seorang PR yang kebetulan manis dan menyenangkan (seperti saya, hwahahahahaha….).

Cheerssss

Ade Sulistiani

Public Relations

PLN Batam

~ oleh iselantang pada Juli 4, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: