Pegawai Rendahan “Sakit Gigi”

karena kami

hidup berhimpitan

dan ruangmu

berlebihan …..

maka kita

bukan sekutu..!

Sajak yang ditulis WS Rendra menyejukkan hati saya. Bagi saya, Rendra tidak sedang memikirkan diri sendiri, tetapi bersuara dan mengepakkan sayap, mewakili perasaan berjuta orang yang hidup dalam himpitan ekonomi.

Beberapa waktu lalu, gigi bungsu saya sakit lagi lebih kurang seminggu. Penyakit ini ibarat member, dianya datang sekali setahun.

Dua tahun sudah menderita penyakit ini. Saya belum putuskan untuk operasi gigi, kendati dokter sudah menyarankan. Bagi saya, operasi itu butuh biaya. Saya masih gamang atas saran dokter itu.

Setahun lalu, saya mendapat kartu asuransi jaminan kesehatan dan hari tua. Dari sebuah perusahaan asuransi “tempe”. Sebagai pemegang polis, saya bangga. Perasaan saya. “Kamu bekerja…sakit dengan asuransi, biayanya ditanggung,” begitulah kira-kira pesan sponsor sebelum perusahaan tersebut berhasil “meraup” untung atas uang premi perusahaan saya.

Karena saya sedang sakit gigi, saya cari kartu ajaib itu. Selepas mandi, mengenakan baju dan melaju dengan “motor butut” ke arah RS rujukan pihak asuransi di Jalan Seraya, Batam. Dalam “kepala hotak” saya waktu itu, pipi bengkak saya, bakal dibelai dokter gigi yang tentunya cantik… welehhh…weleh…?

Belum selesai mengkhayal, rupanya saya sudah sampai ke ruang informasi pelayanan kesehatan Rumah Sakit yang saya tuju. Dengan wajah bengkak, orang pertama yang saya cari, petugas asuransi. Saya pun bertanya ke petugas yang ada. Rupanya, petugas asuransi yang sedang saya cari ke toilet. Waktu menunggu dia “buang hajat”, gigi saya pun berdenyut ! Ampun mak Oiiii….

Malang tak bisa di tolak. Untung tak bisa di raih!

Saat petugas itu datang, saya pun mengeluarkan dompet mengambil kartu asuransi yang sejak dibagi-bagikan oleh perusahaan itu, kartu tersebut belum pernah saya gunakan. Alangkah kecewanya saya mendengarkan jawaban petugas asuransi itu.

Dengan entengnya dia bilang; “Maaf pak, kami tak bisa mengklaim biaya berobat gigi bapak. Kerjasama kami dengan perusahaan bapak, hanya untuk pemberian jaminan hari tua saja. Klaim asuransi kesehatan sebagaimana bapak dengar, itu hanya bonus saja,” terang dia

Atas penjelasan itupun saya tak bisa mengeluarkan kata apa-apa. Niat saya untuk memeriksakan gigi saya yang semakin sakit, langsung sirna. Saya pun meminta kartu asuransi ditangan petugas itu, dan pulang meninggalkan ruang tersebut menuju tempat parkir. “Ya, udahlah mbak…jangan jelaskan lagi’ jawab saya.

Bingung dengan kondisi yang ada, saya pun melaju meninggalkan rumah sakit tersebut dengan motor. Tujuan saya satu, ke puskesmas terdekat. Di daerah Sungai Panas. Saya putuskan itu karena saya tahu, berobat ke puskesmas milik pemerintah, gratis karena biaya berobat warga di subsidi dengan uang pajak rakyat.

Setelah melintasi jalan yang panas, tibalah di Puskesmas itu. Saya parkirkan motor, dan mendaftarkan diri ke petugas penerima pasien.

Lagi-lagi, keinginan saya terbentur tembok. Petugas penerima pasien mengatakan, poli gigi di Puskesmas itu sudah tutup. Katanya saya datang terlambat. Padahal jarum jam di tangan saya baru menunjukkan pukul 10.30 Wib.

Kecewa dengan jawaban petugas, naluri investigasi saya pun muncul. Saya harus pergi ke ruang praktik dokter gigi itu untuk mencari tahu jawaban yang saya terima. Memang benar. Ruang poli gigi Puskesmas, kosong tak satupun dijaga perawat gigi atau dokter. Padahal, waktu itu masih terhitung jam kerja.

Saat menunggu, tak lama berselang saya melihat petugas kesehatan Puskesmas masuk ke ruang itu. Saya pun bertanya. Kenapa poli gigi puskesmas itu cepat tutup. Sebagai petugas medis berstatus PNS, jawaban yang saya terima nyaris sama. Sungguh mengecewakan.

“ Maaf pak, Sekedar konsultasi sinilah….” Kata seorang perawat tempat saya bertanya. Saya pun tak mengenal dia. Yang jelas, dia mau melayani saya, mungkin karena saya mengaku sudah tak tahan lagi menahan sakit. “tolong lah buk…. periksa sikit keluhan saya, setelah itu kasih saya resep obatnya aja….” ungkap saya menghamba.

Selesai perawat yang tak saya kenal itu mendiagnosa penyakit saya lebih kurang 2 menit, saya diberi kertas putih berisikan catatan obat untuk ditebus ke apotik puskesmas. Dia sengaja tak mau memeriksa kondisi penyakit saya lebih detail, karena katanya PLN padam.

Kertas itu saya ambil, lantas saya ke apotik yang disebutkan. Ditempat itu saya melihat, banyak orang yang berpakaian lusuh. Pikir saya, mereka juga senasib dengan saya. Berobat ke Puskesmas karena tak sanggup menanggung biaya berobat di dokter praktik atau ke rumah sakit.

Soal mendapatkan pelayanan yang bagus atau tidak, itu urusan nanti. “ Ya udahlah.. amoxilin, amoxilinlah. Yang penting obat ini gratis,” sebut saya menghibur diri.

Kendati kini, sakit yang saya alami tidak lagi separah dulu, saya sebenarnya masih tetap menyimpan banyak kecewa. Kekecewaan pertama, kenapa asuransi kesehatan saya dibatasi, dan yang kedua, kenapa sebagai seorang pegawai, dokter atau perawat gigi di Puskesmas pemerintah, pegawainya tak lagi mau bekerja seperti sumpah aparatur pemerintah yang mereka ucapkan? Kalau memang demikian adanya, kenapa mereka memutuskan diri untuk menjadi pelayan masyarakat?

Ueeeck… ya udahlah. Yang jelas informasi yang saya alami itu, sudah saya tuangkan ditulisan ini. Anda mau menilainya seperti apa, itu terserah! Yang jelas, seseorang di Puskesmas itu dengan entengnya mengatakan kepada saya, lebih baik mereka diam daripada “mengotak-otik” mulut pasien dengan imbalan “gratis”. “Siapa yang mau pinggangnya patah…” ucap dia kepada saya.

Nauzibillahiminzalik! (*)

~ oleh iselantang pada Mei 22, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: