3 Hari 2 Malam di Jakarta

AWAL April 2008 lalu, selama 3 hari 2 malam, saya bersama bos dan beberapa orang rekan kerja se kantor mendapat kesempatan berlibur ke Jakarta. Bagi saya, ini adalah liburan tahunan yang sangat menyenangkan setelah menjalani beragam aktifitas rutin di depan komputer kantor.

Walaupun saya lagi “Bokek”, perjalanan tersebut sungguh sangat menyenangkan. Apalagi pikir saya, ini adalah kesempatan ketiga saya melihat MONAS. Walaupun itu akhirnya pupus, karena saat saya sudah berada di areal Parkir terminal Gambir, hujan deras disertai badai petir, langsung mengguyur Jakarta. Pintu air Manggarai pun, saat saya perhatikan “nyaris” tenggelam.

Dan kejadian itu paginya menjadi sajian foto headlines Harian Kompas edisi Minggu (7/4). Malam minggu di Jakarta, akhirnya saya nikmati dengan nonton TV di kamar 812 Le Gredeur, Mangga Dua…sial !

Bagi saya, kesempatan “menengok” Monas dari dekat, adalah peristiwa yang sangat monumental. Saya merindukan itu. Rasa penasaran saya belum terobati sampai sekarang. Ada hal unik yang ingin saya lihat.Maaf itu sangat saya rahasiakan.

Jakarta, bagi saya tak pantas menyandang predikat sebagai ibu kota negara. Banyak hal yang mendasari alasan saya. Terutama soal kepadatan penduduk, dan kemacetannya. Saat bercerita dengan seorang rekan, saya nyeletuk, sebaiknya, presiden, wapres, anggota parlemen dan semua menteri, pindah saja ke Sumatera.

Misalnya ke Kepri yang bertetangga dengan Thailand, Singapura dan Malaysia. Atau pindah ke Dumai, kota minyak di Riau yang kini tengah berjuang mendapatkan status wilayah free trade seperti di Batam, Bintan dan Karimun.

“Lihat tuh. Jalan aja susah, macet kotor lagi. Belum lagi banjir. Dalam kondisi kayak gini. Logikanya gimana mau ngurus negara,” celetuk saya. Dari Soekarno Hatta ke kantor Trans TV di Mampang Prapatan, dari jam 3 sore, nyampai pas maghrib.

Wacana pindah ibu kota sebagaimana pernah saya baca di koran, saya rasa hal yang wajar. Dinamika sosial sudah sangat melilit tubuh Jakarta. Bak benang kusut, wajah Jakarta, mungkin sudah cukup sulit bila di urai. Jawabnya angkat koper dari Jakarta!.

Meniru apa yang dilakukan Malaysia, toh negara kerajaan itu tidak gagap. Mereka nekad menggelontorkan uangnya untuk membangun sebuah pusat peradaban baru, simbol pemerintahan yang bermarwah.

Sementara Jakarta. Ganti gubernur pun, kelihatannya masih sulit “dibereskan,”. Bayangkan, jembatan penyebrangan aja, bisa dilalui oleh pengendara motor. Kalau kawasan pedestrian. Itu dah biasa. Ini asli. Saya menyaksikan, seorang pengendara mobil, turun dan ngajak polisi berantam di pinggir jalan. Gileee bener.

“Ah… itu mah, biasa bos! kata kawan saya. Nanti ada lagi pak Ogah. Kapak Merah yang beroperasi di Casablanca. Bikin takut. Saya aja, nggak berani keluar malam melintasi jalan di sekitar wilayah itu. Termasuk di wilayah Ancol,” terang kawan sekolah yang kini tinggal di Cengkareng itu. (*)

~ oleh iselantang pada April 8, 2008.

Satu Tanggapan to “3 Hari 2 Malam di Jakarta”

  1. klo ibukota pindah ke riau..
    ntar Riau macet juga pak..
    ntar ada yang protes lagi knapa ibukota gak di sini-situ..

    yang mesti diperbaiki adalah masalah penyebaran penduduk nya.. bukan lokasi ibukota nya..😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: