Tak Usah Takut Wartawan !

Kawan saya seorang birokrat, mengeluhkan sikap pers yang dia nilai mendiskreditkan kehidupan pribadinya. Ia tersinggung, karena judul dan isi tulisan tentang “proyek yang ia kerjakan”  cenderung provokatif, lari dari fakta.

Karena kepalanya mumet, dia minta,  saya memfasilitasi sebuah pertemuan dengan wartawan yang ia maksud. “Saya mau tau, maksudnya apa…? begitu kira-kira, pernyataan keras  yang ia keluarkan kepada saya.

Ketika saya mendengar cerita dia, ia amat tersinggung oleh sebuah judul berita yang ia
nilai, menggiring opini publik untuk sepakat mengatakan dia adalah pelaku “Korupsi” uang rakyat. Atas judul itu, ia mengaku tak terima. Ia berani membeberkan, kasus yang ia alami, tidak lagi bicara soal hukum, tetapi sudah lari menyentuh ranah politik.

“Dalam kasus ini, saya hanya korban. Ada orang yang tidak suka saya, mereka menganggap, saya dianggap pejabat “trouble maker,”. Mereka ingin menyingkirkan saya,” ungkapnya polos.

Lama menjadi pendengar, saya pun berujar. Dari sekian banyak kalimat yang saya ucapkan, diakhir penjelasan, saya cuma bilang, ANDA Tak Usah Takut Wartawan. Apalagi itu cuma wartawan Bodrex. Biarkan mereka teriak. Jangan hiraukan, karena kalau ANda emosi, dia pasti ketawa,” jawab saya, sekenanya.

Saat pertemuan kami berakhir, saya pulang ke rumah. Kendati demikian, pikiran saya masih dirasuki, cerita kawan saya itu. Bosan berkelana karena pikiran saya berhasil dijajah, saya pun, membuka sebuah kitab suci wartawan. Isinya kode etik,wartawan Indonesia. Setelah membaca buku pers lainnya, pikiran saya mulai agak tenang.

Setidaknya saya sudah punya gambaran, jika kawan saya tadi, datang lagi minta advice.
“Kalau urusan pekerjaan, dicampur adukkan dengan urusan pribadi,  Itu tidak lagi masuk kategori pekerjaan pers. Bisa saja, yang nulis berita itu wartawan gosip,” ungkap saya dalam hati.

Menjadi wartawan, memang pekerjaan yang penuh resiko. Silap menjabarkan maksud atau tujuan dari sebuah informasi yang diperoleh, bebannya cukup berat. Apatah lagi, mengupas berita konflik. Ujung-ujungnya,  akibat ulah oknum, perbuatan wartawan itu menyebabkan masa depan orang yang tak bersalah menjadi suram. (baca; tukang penebar fitnah).

Dari buku pengakuan seorang wartawan senior di Indonesia, ia mengingatkan, seorang
wartawan, dalam penyajian sebuah berita, dia tidak boleh mencampur adukkan fakta sebuah berita, dengan opini. Supaya selamat dari kecaman, ia minta agar setiap wartawan, saat ingin membangun opini, cantumkan nama orang yang berkomentar dengan selengkap-lengkapnya. Satu kata pun jangan sampai salah. Sebab, jika keliru, narasumber bisa saja berkelit, dan melancarkan serangan balik.

Pada halaman selanjutnya, ia tidak menampik ada wartawan di Indonesia, yang pekerjaannya cuma nanya-nanya (CNN). Ending dari pertanyaannya itu bukan untuk ditulis guna membela kepentingan pembacanya, tetapi cuma untuk mengeruk keuntungan yang bersifat pribadi.

Pada kondisi seperti ini, narasumber harus hati-hati. Bisa jadi, prilaku wartawan yang
menyerang hak privacy seseorang, tujuannya bukan untuk menyelamatkan kepentingan
rakyat yang ia bela, tetapi cuma untuk memanfaatkan “kekuatan” pers, sebagai
ladang persawahan untuk mengisi lumbung padinya.

Untuk itu, birokrat yang takut pers, pertanyaan yang akan ditujukan untuk dia pribadi, ada dua. Anda melakukan perbuatan yang dituduhkan, atau tidak. Jika pilihan kedua yang Anda pilih, jangan takut terhadap wartawan. Ajak mereka berkawan, tapi dalam persahatan yang Anda bangun, jangan lecehkan mereka dengan trik-trik yang merendahkan harkat dan martabat
profesinya (*)
 

~ oleh iselantang pada November 24, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: