Kawan Saya Jadi Lurah !

lurah.jpgJum’at siang di sebuah kantor Pemerintah di Kota saya tinggal, saya menyaksikan kawan saya dilantik menjadi lurah.   Tubuhnya dibalut Pakaian Dinas Upacara serba putih, termasuk warna sepatu. Mengenakan pet lambang Garuda warna hitam — topi kebanggaan lurah kampung di Indonesia– siang itu penampilan kawan saya tersebut cukup gagah, dan membuat saya pangling.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, bintang kawan saya tersebut terus bersinar. Sejak ia berkenalan dengan seorang mantan camat, kamera pocketnya, sudah melayang entah kemana.

Bayangkan, baru setahun diberi jabatan Sekretaris kampung, kini dia terpilih menjadi pengganti lurah. Jabatannya bagus, tapi warga tak setuju karena dia dinilai populis, sekaligus banyak melahirkan program trobosan yang  mengangkat nama baik kampung.

Kami masih ingat,  setelah  dia dilantik mendampingi pak lurah kampung yang sudah uzur,  semua RT dan warga kampung berkumpul dan di kerahkannya membereskan selokan, jalan berlobang,  tumpukan sampah pasar ikan,  dan memperbaiki pintu gerbang kampung yang nyaris rubuh. Pohon penghijauan pun, juga dia tanam.

Atas upayanya itu,  kampung kami kini di anggap kampung tua percontohan se Kecamatan, yang dinilai pak camat termasuk pak Gubernur dan pak Menteri, layak ditiru karena Asri, Bersih dan hijau. Bahkan, pemuda kampung pun berhasil di manfaatkannya untuk menjaga keamanan kampung dari ancaman  perompak Selat Malaka, yang singgah ke kampung kami untuk mengambil air bersih.

Ketika kawan saya tersebut di sumpah didalam ruang pertemuan camat , banyak pejabat yang hadir. Saya menyaksikannya. Disitu, ada ahli agama, berjubah putih menaruh kitab suci di atas kepalanya.

Saat dia disumpah, saya mengamati betul kalimat yang dia baca.Intinya, jika ia melanggar, tamatlah kawan saya ini. Dia bukan hanya berdosa kepada orang yang ia pimpin, tetapi juga kepada tuhan.

Sebagai penonton, bulu kuduk saya berdiri mendengar apa yang ia ucapkan. Dia tidak hanya dilarang melanggar kode etik jabatannya, tetapi juga dilarang menyanggupi sesuatu hal diluar kewenangan yang ia miliki.

Toh waktu saya tertegun sejenak, yang saya pikirkan hanya satu hal. Kondisi kehidupan rekan saya ini belumlah begitu mapan.

Yang saya tahu dari cerita dia, seratus persen keluarganya hidup dari uang gaji yang ia terima. Kalau dikalkulasikan, nilainya pas-pasan untuk modal setengah bulan. Memang, setelah dia dilantik gajinya naik. Tapi, kenaikannya tidak begitu signifikan.

Sekarang, penghasilan Rp 2 juta/bulan saja, di kampung kami nilainya tak seberapa. Kontrakan rumah tarifnya  sudah diatas Rp 500 ribu/bulan. Belum lagi  bayar listrik, air, atau ongkos lainnya termasuk biaya beli susu.

Cerita masa lalu, dulu di Kampung kami kehidupan ketua RT saja cukup makmur. Sampai-sampai biaya pengurusan KTP, tembus hingga harga Rp 200 ribu. Tapi sekarang, kondisi seperti itu tinggal kenangan. Sejak camat kampung kami diganti, semua biaya pengurusan dokumen kependudukan gratis. Termasuk didalamnya biaya pengurusan KTP.

Oleh karena itu, ditengah kegembiraan kawan saya ini, wajar otak saya berpikir negatif. Kalau tidak memanfaatkan jabatan, dari sumber mana lagi mereka mencari nafkah..? Toh sekarang, banyak pabrik china di Kampung kami, tutup karena tak kuat menghadapi demo buruh.

Doa saya, semoga kawan saya ini bisa sukses memikul amanah. Uang memang bukan segala-galanya. Tapi saya yakin, dia bisa. Dulu semasa Timor Timur masih bergolak, dia bertahan di Timor Leste berperang mempertahankan NKRI. Pesan saya, jadilah lurah yang jujur. Minimal jujur pada diri sendiri. (*)

~ oleh iselantang pada November 23, 2007.

2 Tanggapan to “Kawan Saya Jadi Lurah !”

  1. Hidup Pak Tahir…farhan selalu, akan selalu dibelakang mensupport….

  2. Iselantang….! Trims atas harapan dan doa nya. Paling tidak apabila Lurah se Indonesia membaca ini dapat memberi batasan tuang gerak mereka secara insani bagi pejabat yang disumpah untuk tidak berbuat kesalahan dalam mengemban tugas dan fungsinya.
    Gimana dengan kang yang satu lagi yang juga dipercaya jadi Lurah setelah cukup lama jadi bos mu?
    Hidup Tahir , Kang D, Bang Broery (Ex Humas yg berhasil)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: