Tuduhan SMS Dari Tanah Barelang

bridge1.jpgDalam beberapa hari belakangan, saya tidak begitu mood menulis. Saya benar-benar vakum,walaupun ada ide. Tapi, saat saya membuka laman weblog saya, keinginan menulis itu muncul. Yang saya sorot kali ini, soal rencana pengelolaan kawasan wisata terpadu dan eksklusif atau KWTE Batam, yang rencananya akan di bangun oleh pengusaha Taipan Nasional, Tommy Winata, pemilik PT Artha Graha Group.

Bagi saya, saya tidak mengenal Tommy Winata. Kabar yang saya dengar, dia Taipan sukses, paling kaya setelah Mr Lim, Ciputra dll. Cerita lainnya, Tommy Winata sosok pengusaha yang memiliki jaringan yang cukup kuat dan hebat di Indonesia. Majalah nasional sekelas Tempo saja, pemimpin redaksinya, bisa ia kejar dan penjarakan.

Dalam tulisan saya kali ini, saya tidak akan menceritakan itu. Yang ingin saya kupas, hanya soal SMS “Bodong” yang dikirim oleh orang tak dikenal kepada jaringan kelompok intelektual ” The Habibie Centre“, yang mana SMS itu, terus melayang-layang hingga menyambangi nomor HP Sekretaris Kabinet Presiden RI, Sudi Silalahi.

Walaupun dalam pengakuannya kepada media massa, Sudi Silalahi merasa tak sudi namanya dikait-kaitkan, dan mengatakan bahwa ia tidak pernah menerima kiriman sms dari the Habibie Centre, apalagi menyampaikan instruksi investigasi kepada Kapolri, sebagaimana perintah atasannya, presiden SBY. Pertanyaannya sekarang, kalau Sudi Silalahi tak merasa dirinya bersalah, lantas permainan apa ini…? Surat kaleng ini juga dikirimkan ke KPK, Timtas Tipikor dan Kejagung RI.

Bagi saya, kita hendaknya harus banyak memahami dan mempelajari sejarah masa lalu Polisi RI. Mungkin Anda ingat, kasus bom yang tersangkanya dilidik polri. Dari beberapa orang yang difitnah, banyak juga tawanan polisi Indonesia yang setelah ditangkap dan dijadikan tersangka, mereka dibebaskan karena tidak terbukti melakukan kesalahan, menghilangkan nyawa ribuan anak manusia, termasuk nyawa Warga Negara Indonesia (WNI) dan Warga Negara Asing (WNA) seperti Australia.

Salah seorang diantaranya, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Pendiri/Pengasuh Pondok Pesantren Ngruki Solo tersebut, setelah digiring kesana kemari termasuk dijebloskan ke penjara, ia kemudian bebas. Padahal atas masalah yang menimpa ustadz Abu ini, nama beliau tidak hanya rusak, tetapi juga sobek-sobek akibat benturan beragam opini yang dibangun pejabat publik kita melalui mass media.

Ironisnya, Kapolri atas nama institusi, hingga hari ini, belum pernah saya baca di Koran, telah meminta maaf atas kealfaannya. Yang terjadi justru, Ustadz Abu kini tetap sabar, dan berdiri tegak sambil berteriak bahwa segala apa yang dituduhkan kepadanya, adalah fitnah yang disebar luaskan oleh antek-antek Amerika.

Semoga, sejarah kelam kehidupan Baasyir ini, tidak terulang dalam kasus Tommy Winata yang diperiksa Polisi karena terkait adanya kasus dugaan korupsi sebesar Rp 3,6 Triliun pasca Tommy Winata, pada tanggal 26 Agustus 2004, menandatangani MoU pembangunan kawasan wisata di Pulau Rempang dan Galang.

Pernyataan terbaru Kapolri; ” Ada Indikasi terjadi penyimpangan dana untuk pembangunan wisata Rempang. Tommy Winata sebagai saksi disini. Arahnya ke instansi-instansi di daerah,” (batampos, Sabtu 17 November 2007).

Dari itu, kita meminta Kapolri beserta jajarannya, jujur pada diri sendiri. Jangan memberikan kejujuran dari sebuah kebohongan. Kalau memang isi sms itu benar, bersikaplah kesatria. Jangan ciderai nama besar Polri, akibat silap kata karena lidah terlanjur bicara.

Dan sebaiknya juga, tuduhan Kapolri yang mengatakan, informasi SMS yang tengah dilidik “anak buahnya” bersumber dari kiriman surat kaleng oknum PNS Pemkot Batam, perlu dilakukan pembuktian. Jangan sampai info no name itu merugikan citra dan nama besar pegawai Pemko Batam, karena bisa saja, isu itu dilempar oleh orang-orang yang berseberangan dengan kehadiran UU Otonomi Daerah yang melahirkan Pemkot Batam. Dan alangkah bijaksananya juga jika Kapolri turut mencari tahu, identitas sebenarnya daripada pelaku pengirim SMS tersebut.

Apatah lagi, nomor hp pengguna jaringan operator selular, sudah tidak sulit lagi dilacak. Rakyat sudah bosan melihat sandiwara. Dan jangan ulangi lagi episode yang sudah terlanjur sering kita tonton pada layar teater komedian di laman rumah kami yaitu tanah terjanji yang diibaratkan banyak orang; Taman Mini Indonesia. (*)

~ oleh iselantang pada November 17, 2007.

2 Tanggapan to “Tuduhan SMS Dari Tanah Barelang”

  1. Biasa lah bang…dah dekat2 akhir taon nih…gi ta ade duit…bgi orang2 yang sibuk nge-sms tu dengan modal SMS yang hanya Rp 350 perak saje nak ambek keuntungan yang berlipat dari mengancam TMW…padahal dah jelas MoA tu ta penah sesen pun merugikan negara…

  2. Kalo beritanya sudah dimuat dimana-mana, saya rasa itu bukan isu lagi. Tinggal pembuktian saja, benar tidaknya kasus aliran dana KWTE itu. Nggak perlu kebakaran jenggotlah, kalo nggak terbukti kan bisa tuntut balek. Piss🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: