Rapat RT

Sabtu pagi, (3/11/2007), setelah mandi dan ingin sarapan, saya diberitahu Istri , ada undangan rapat dari pengurus RT perumahan kami.

Dengan meminta tolong, tanpa komando, Istri saya bilang, besok, Minggu (5/11/2007) ada rapat RT di pos ronda. Katanya ada pembahasan tata tertib, hak dan kewajiban warga perumahan kami.

Setelah mengamini penjelasan ibu dari 2 orang anak perempuan saya itu, saya pamit ke kantor. Maklumlah, sekarang musim halal bihalal, dimana saya diberi beban meliput kegiatan pak wali.

“Kalau begitu, besok ayah datang. Tapi, hari minggu nanti, kita terpaksa malamnya nggak jalan-jalan. Sebab siang, ayah ada tugas kantor,” ungkap saya kepada Azera, anak tertua kami.

Sebenarnya, atas penjelasan saya itu mereka protes. Tapi, Alhamdulillah mereka bisa memberikan saya laluan, berinteraksi dengan warga se Komplek Perumahan saya tersebut.

Cerita punya cerita, dari rumah, saya langsung meluncur ke pos ronda yang jaraknya hanya sekitar 50 meter. Disana sudah ada sekitar 20 orang warga, dari 90 KK warga yang tinggal di perumahan kami.

“Sudahlah, tak usah ditunggu lagi. Kita mulai aja rapatnya,” ungkap kami semua.

“isi absen dulu pak… biar warga yang tak hadir itu bisa kita ketahui,” tambah Sugeng, pak RT kami.

Tanpa pikir panjang lagi, Rapat bulanan itupun dimulai. Pak RT kami menceritakan alasan dia mengundang warganya. Ia mengatakan, rapat itu untuk membahas dua agenda penting. Mengisi formasi pengurus RT yang lowong (koordinator blok perumahan), membahas tata tertib untuk warga yang tinggal di lingkungan RT 04/RW 23, Perumahan Cendana, plus membahas usulan lain yang menyangkut kepentingan warga.

Tanya Jawab dan perdebatan kecil pun dimulai. Ada yang minta, karena sekarang marak isu aliran sesat, setiap aktifitas keagamaan di lingkungan RT kami di perketat.

Begitu juga soal kumpul kebo dan narkoba. Warga minta aktifitas seperti itu dipantau, jika ditemukan, pelakunya langsung di serahkan ke polisi, diarah, atau didenda dengan mengacu kepada Peraturan Daerah (Perda) Kota Batam tentang Ketertiban Sosial. Nilai dendanya mencapai Rp 5 juta. Sanksi paling kejam, diusir dari kawasan perumahan kami.

Aturan lainnya, kepada setiap warga yang baru pindah, mereka diwajibkan mematuhi ketentuan wajib lapor 1 x 24 jam. Tujuannya, supaya mereka tahu, tata tertib, hak dan kewajiban tinggal di RT 04.

Begitu juga pengaturan jam kunjung tamu. Diluar muhrim dilarang kumpul kebo, dan atau membawa laki-laki/perempuan, lewat jam 10 malam. Pengecualiannya, hanya malam minggu, waktunya ditambah 1 jam.

Diskusi ini tak kalah serunya, ketika membahas jadwal Gotong Royong & Menjaga Kebersihan. Banyak keluhan, selain rapat, warga susah diajak gotong royong. Alasan ketidakhadirannya pun, beragam. Sibuk, tak punya waktu karena urusan lain atau lembur.

“Kalau goro, cukup 1 kali dua bulan saja, pak. Rapat RT sekali sebulan. Yang tak hadir, diwajibkan lapor, atau didenda saja, ” usul warga dalam pertemuan itu. Usul ini diamini. Ketuar RT diberi peran, menjatuhkan sanksi kepada warga bandel.

“Bagi warga yang malas gotong royong, ikut rapat RT, mereka dikenai denda Rp 20 ribu/kk. Jika masih tetap membandel, sanksinya dikucilkan dari lingkungan sini,” bunyi dari salah satu isi putusan rapat yang dihasilkan malam itu.

Belajar dari pengalaman rapat RT dilingkungan tempat tinggal saya ini, banyak hal yang saya pelajari tentang sifat manusia selaku makhluk sosial.

Pertama, soal hubungan sosial. Warga yang tinggal di perkotaan, karena aktifitasnya, lebih banyak mementingkan kepentingan pribadi dari pada kelompok. Hubungan sosial yang dibangun melalui unit pemerintahan terkecil seperti RT, seringkali dianggap tidak begitu “penting”.

Padahal sebagai tetangga, jarak antara rumah keluarga yang satu dengan rumah milik keluarga lainnya, hanya dibatasi jarak dinding tembok. Ini sesuai kondisi fisik perumahan yang kebanyakan dibangun deret atau couple.

Kedua, soal gotong royong. Untuk hal-hal yang menguntungkan dirinya sendiri pun, masih banyak diantara kita yang menganggap, tradisi nenk moyang kita ini hanya bikin “capek” saja. Padahal, makna Goro itu ialah, sarana saling berinteraksi dalam sebuah kelompok sosial.

Nah… atas hal ini, saya teringat pesan Imam Al-Ghazali dalam bukunya, Mengungkap Rahasia Hakikat Sabar dan Syukur.

Imam besar yang bukunya laris dibaca penggali ilmu agama dan sosial budaya itu, mengatakan; Seorang raja, saja tidak bisa berbuat dengan kekuasaannya tanpa bantuan orang lain. Dia rupanya masih butuh “abdi dalem” baik untuk menghidangkan air minum, atau membersihkan lantai istananya.

Jadi, sangatlah tidak bijak, jika dalam kehidupan kita sehari-hari, menganggap kepentingan diri kita sendiri lebih penting dari kepentingan-kepentingan lainnya. Nauuzubillahiminzalik(*)

~ oleh iselantang pada November 5, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: