Orang Hinterland Angkat Bicara

pulau-i.jpgSaya termasuk orang yang rajin “bertandang” ke pulau-pulau kecil diluar wilayah kerja Otorita Batam. Maklum, itu semua karena tuntutan profesi saya.

Dari perjalanan yang pernah saya lakukan ke pulau terpencil diluar Kota Batam, banyak hal yang bisa lihat, Mulai dari kehidupan para nelayan, sampai masa depan anak-anak pulau yang sangat menyedihkan kita.

Suatu masa saya pernah diajak mengikuti rombongan pejabat di Pemerintah Kota Batam ke salah satu perkampungan penduduk di Pulau Rempang. Dari Kota Batam, perjalanan menuju ke pulau itu lumayan melelahkan. Kita tidak hanya naik angkutan darat tetapi juga angkutan laut.

Ketika saya berada di Pulau itu, saya mengamati secara serius rumah penduduk, kehidupan, dan fasilitas umum yang ada diwilayah itu. Dengan perasaan yang sangat menyedihkan, salah seorang tokoh masyarakat ditempat tersebut menyebutkan, anak-anak mereka lebih baik melaut daripada sekolah…

Mendengar ucapan polos itu saya pun tertegun sejenak. Saya sempat berpikir, kenapa orang ini sampai berpikir sedangkal itu. Bukankah pendidikan anak mereka jauh lebih penting daripada uang?

Tak lama kemudian, saya kemudian ia tegur. Dia bertanya kenapa saya diam. pertanyaan itu saya jawab sekenanya. kok orang kampung bapak lebih memilih anaknya melaut daripada sekolah…?

Dengan panjang lebar dia kemudian menjelaskan alasan orang kampungnya, tidak mau menyekolahkan anaknya. Dari penjelasan itu kemudian dapat saya simpulkan, mereka tidak mau menimba ilmu karena banyak sebab.

Pertama, soal biaya. Dengan jumlah hasil tangkapan ikan yang nilainya tergantung dengan perubahan musim, ia menyampaikan banyak anak-anak nelayan yang pendidikannya hanya tamat SD atau SMP. Untuk melangka kejenjang pendidikan selanjutnya, SMU tidak ada, dan salah satu caranya, anaknya harus merantau ke Kota. Untuk membiayai kehidupan anaknya, itulah masalah yang sangat tidak mudah untuk mereka pecahkan.

okkk.jpgAlasan kedua, soal mutu lulusan. Mereka beranggapan, setinggi apapun sekolah anaknya di Kota, setelah tamat, lapangan pekerjaan untuk mereka ternyata masih sulit didapat. Kalau hanya kerja di Pabrik, mereka beranggapan, lebih baik anaknya melaut, dan saban hari bisa berkumpul dengan orang tuanya.

Toh, menurut mereka, pergaulan anak muda di Kota, lebih banyak mudharatnya. Bagi yang tipis iman, bisa-bisa, mereka cuma bisa masuk dan keluar pintu pub, diskotik atau hotel. Ketakutan seperti ini, menurut saya tidak begitu beralasan karena disinilah peran orang tua dalam mengawasi anak-anaknya yang jauh dari belaian/dekapan keluarga.

Dari apa yang saya ungkapkan tadi, si tokoh masyarakat ini, masih berharap orang kampungnya bisa berubah pikiran. Ia juga berpesan kepada saya, agar kalau menjumpai orang penting di Kota, jangan sungkan meminta mereka untuk mendirikan sekolah gratis di Pulau, tidak hanya SD tetapi juga SMA dan SMK. Kalau itu berat, mereka berharap, ada beasiswa dari pemerintah yang bisa mereka pakai untuk melanjutkan pendidikan anaknya yang cuma tamat SMP atau Madrasah Tsanawiyah. (*)

~ oleh iselantang pada November 2, 2007.

Satu Tanggapan to “Orang Hinterland Angkat Bicara”

  1. Untuk membangun kawasan hinterland Kota Batam Perusahaan asing dan perusahaan besar lainnya di Pulau Batam, harus dibuatkan aturan agar mereka mengucurkan sekian persen nilai keuntungannya untuk melaksanakan program social coorporate responsibilty yang bermanfaat. Misalnya mengucurkan anggaran untuk membantu pembangunan sekolah baru, transportasi siswanya, membantu peralatan belajar dan praktikum serta memberikan dana bea siswa bagi mereka anak nelayan yang dinilai memiliki prestasi yang harus dikembangkan. Tanggungjawab pemerintah daerah dan OB, membuat regulasi atas program CSR tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: