Melayu…Melayu…Melayu….

kacamata.jpgTiga kalimat yang saya rangkai secara terpisah dengan 9 tanda titik pada judul tulisan ini, sebuah bentuk pengulangan atas sikap optimis saya bahwa puak penyumbang bahasa Indonesia itu, bisa saja menjadi sebuah puak yang dihormati di negeri ini bila semua bidang kehidupannya bisa dikuasai dengan keahlian, keterampilan, pendidikan dan pengetahuan yang mapan. Tengok saja Malaysia. Tidak hanya menara twin tower yang mereka sumbangsihkan kepada tuan-tuan kerajaan, tapi juga astronot.

Begitu juga puak Melayu di Riau dan Kepri. Disana, mereka mengorbankan “berjuta-juta ribu barrel”perhari, minyak mentah untuk di olah sebagai sumber utama atas cadangan devisa negara di negeri ini. Walaupun, kekayaan atas harta yang ditumpuk “Jakarta”, baru dikembalikan dalam bentuk bantuan dana bagi hasil migas, dalam kurun waktu 7 tahun terakhir ini, tentu dengan nilai rupiah yang belum sebanding….

Saya tersentuh untuk membangkitkan “semangat nasionalisme” puak melayu pada tulisan ini, semata karena saya ingin melihat menara twin tower seperti di malaysia, berdiri megah di tanah dompak, tanjungpinang yang dinobatkan petinggi negeri di provinsi Kepulauan Riau sebagai pusat pemerintahan. Selain itu, tulisan ini saya unggah sekaligus sebagai obat atas kerinduan melihat Nagoya dan Batu Ampar di Pulau Batam, tidak lagi dikenang oleh setiap pendatang ke Batam, sebagai simbol “seks” yang banyak disuguhkan oleh gadis-gadis molek yang datang bertandang ke Batam, menodai marwah melayu.

twin-tower.jpgItu semua karena, puak Melayu “berakar’pada satu kemuliaan yang diusung dari kalimat-kalimat sakral pada kitab suci yang diwahyukan kepada Muhammad, SAW. Rasul dan nabi terakhir.

Walaupun ada diantara manusia yang lahir dari negeri yang tak luput dari berbagai murkah Tuhan, (mantan PNS Pemprov DKI), baru-baru ini melalui koran yang saya baca, beliau mendeklarasikan bahwa dirinyalah rasul terakhir pengga nti yang mulia, baginda nabi,  Muhammad SAW.

Atas perlakuannya itu, saya mahfum saja. Sebab dia, bukan makhluk yang ditakdirkan lahir di tanah Penyengat.

Melayu sebagai puak, adalah komunitas besar di serantau Riau- dan Kepri. Dalam bertutur kata, dia lembut selembut salju, dan bijak dalam menyampaikannya pada sebuah pantun. Walaupun dalam komunitas melayu ada terdapat istilah “Amuk”, silat, keris dan gendang yang mereka tuahkan dari semangat “Hang Tuah”, tidak akan mereka laga pada panggung terbuka.

Silat hanya ada pada kata. Keris hanya ada dalam jiwa yang meronta. Sedangkan gendang, hanya akan ditabuh, bila pantun dan kata gurindam, tidak lagi didengar sebagai petuah.

Melayu… sebagai sebuah identitas, menerima banyak kaum di tanahnya yang makmur. Suai dalam kata, hanya diterima jika tamu menghormati tuan rumah.

Pada pertemuan puak melayu di Batam, pada Rabu 31/10/2007 di Hotel Novotel , saya terkenang satu kata yang pernah saya dengar semasa kuliah. “Puak melayu itu kurang agresif. Pemalas, dan hanya suka berhibur,”. Tapi, semasa lebih kurang 3 jam saya berada dalam ruangan yang dipenuhi tubuh berpakaian “teluk belanga dan kain songket” itu, saya tidak melihat sedikitpun perasaan kecewa terpancar dari wajah anak-anak negeri yang hadir diruangan itu. Kopiah hitam dari atas kepala pucuk negeri yang dilantik penasehat negeri, dilepas untuk kemudian diganti dengan “Songket Tanjak”sebagai tanda, dialah pemimpin melayu yang harus sama-sama dihormati dan didengar tutur katanya.

Mereka terlihat bergembira bersama petinggi negeri. Walaupun, pada backdrop acara yang dipampangkan, tidak hanya terdapat tulisan penabalan pengurus anak negeri, dan kata-kata halal bihalal yang terangkai dalam balutan kain spanduk berwarna hitam yang dipadupadankan dengan gambar rumah pelantar di pinggir pantai yang dirimbuni beberapa batang bambu kuning yang tumbuh menjulang langit.

malaka.jpg“Kita harus banyak belajar. Berpolitik, dan berdagang seperti orang minang. Tak adalagi kata takut. Kita harus berani mencoba, karena tanpa mencoba, takkan ada menara kembar di Malaysia, tanah melayu tempat puak kita berkumpul,” kata salah seorang petinggi melayu, yang sudah uzur.

Kalaulah petinggi negeri yang saya “tabalkan” ini tidak alim dalam bersikap, pemimpin zalim patut disanggah, begitu petuah dan nasehat yang saya dengar penasehat negeri yang saya dengar.Dari ungkapan petinggi negeri itu, saya teringat kampung saya Pekanbaru-Riau. Walaupun dikenal dengan sebutan negeri minyak, tapi semasa sekolah, atas kekayaan negeri, kami masih sekolah pada sebuah sekolah dasar negeri, yang ruang kelasnya disekat dengan papan triplek.

Aduhai Engkau Riau. Kalau seandainya tidak ada gejolak menuntut Riau Merdeka, mungkin kita seperti orang Aceh. Menunggu Tsunami, biar mata petinggi negeri ini, merasa bersalah atas perbuatannya. Melayu….oh…Melayu….Dendang dan julang langit dari tanah Nadim, karena tuan kita Hang Tuah, pendekar berbudi, alim, dan setia pada negeri.(*)

~ oleh iselantang pada November 1, 2007.

Satu Tanggapan to “Melayu…Melayu…Melayu….”

  1. Assalamu ‘alaikum…..
    sedare… saye nak kenalan dengan awak ni… saye org baru di Batam, kire2 dah 2 tahun saye mukim disini….tinggal di batu aji sehari2 sbg ketua IKADI (Ikatan Da’i Indonesia) kota Batam dan pengajar study Islam di PGTKI Arrisalah dan beberapa majelis taklim….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: