60 hari di Pesantren Thawalib Bangkinang

kecillliiseee.jpgKetika itu, usia saya baru menginjak tahun ke 12. Baru benar-benar fresh, lulus dari sebuah SD Negeri pada sebuah desa di Dusun Padang Merbau, Kampar.

Enam tahun belajar pada bangku sekolah dasar, bukan waktu yang singkat. Walaupun saya harus akui bahwa waktu sepanjang itu mengalir bak air, sebelum pengumuman lulus atas hasil ujian Ebtanas untuk siswa-siswa pada SD tempat saya belajar.

Alhamdulillah, Allah SWT melapangkan jalan saya, dan menghargai semua jerih payah orang tua saya yang menyekolahkan kami, dalam kondisi materi yang tidak begitu membanggakan lagi. Satu yang membuat saya bangga, saya terlahir dari keluarga yang memiliki visi, menyekolahkan anak lebih penting daripada memiliki harta yang berlimpah ruah.

Setelah tamat, malam ketika saya hendak tidur pada sebuah ruang keluarga yang sangat sederhana, saya ditanya dan dianjurkan melanjutkan ke pendidikan ke pesantren Darun Nahdah Tawalib Bangkinang.

Waktu pertama mendengar cerita tersebut, saya sebenarnya sudah ingin menolak. Tapi, setelah mendengar beragam alasan yang diungkapkan ayah, saya akhirnya setuju disekolahkan pada pesantren yang terletak di dusun Muara Uwai, Kota Bangkinang itu.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di pesantren yang dikelola keluarga Ustadz Muhammad Nur itu, kerinduan saya atas desa tempat saya dilahirkan, begitu kental sekali. Bahkan tidak jarang, saya menangis, meronta dalam hati, ingin pulang dan segera pindah ke sekolah lain.

Pernah satu ketika, hari Rabu. Hari pasar besar di Kota Bangkinang. Waktu itu semua siswa libur. Saya dan kawan se asrama, pergi berbelanja kebutuhan harian. Ketika menginjakkan kaki pada pasar yang terletak di dekat kantor Bupati Kampar itu, saya menjumpai orang yang satu kampung.

Waktu itu tanpa sadar, saya menangis, ketika dia menanyakan kondisi saya belajar di pesantren. Semua itu tanpa sengaja. Diusia saya yang baru seumur jagung itu, emosi saya terlalu sensitif, mendengar cerita dari orang yang saya kenal.

Hidup di pesantren, menurut saya tidak seperti yang digambarkan banyak orang. Selaku siswa yang dititipkan untuk dibina dengan beragam ilmu-ilmu agama, kami tidak hanya diperkenalkan dengan hukum Tuhan. Sejak kelas 1, kami juga diperkenalkan dengan mata pelajaran umum, termasuk Pendidikan Pancasila.

Begitu juga dalam bergaul. Kami begitu selektif. Apalagi bergaul dengan siswi yang bukan muhrim. Pernah, teman saya kenalan dengan siswi yang tinggal di pondok putri. Ia dihukum senior karena ketahuan menulis surat cinta untuk cewek yang dia pingin taksir.

Tinggal di asrama siswa yang disediakan pengelola pesantren,kenangan yang terlupakan.Didalam komunitas kami, senior harus dihormati. Mereka tidak boleh dibantah, apalagi dikerjai.

Tetapi, sesama penghuni asrama, kekompakan siswa didalamnya, sangat lumayan. Bayangkan, kalau Anda mau makan, masakan yang dibuat, jangan makan sendiri kalau nggak mau dikerjai.

Pernah, saya dibekali sambal “goreng ubi ikan teri” dari rumah. Karena takut stok seminggu tidak cukup, saya simpan dalam lemari. Kesalahan saya cuma satu. Pas ada kawan beda blok asrama melihat saya makan, saya tak menawarkan dia sambal goreng ubi yang saya makan. Esoknya, dia marah. Sewaktu saya masuk kelas, dia mengerjai saya dengan membalikkan lemari tempat penyimpanan sambal kami. Otomatis semua sambal yang disimpan dalam lemari itu berantakan.

Saya baru tahu cerita aktor dibalik “aksi anarkis” itu, setelah beberapa minggu kemudian, pelakunya datang dan menceritakan perbuatannya itu kepada saya dan rekan-rekan satu asrama lainnya. Mau dimarahi, tak mungkin. Sebagai sahabat, kami baru kenalan. Akhirnya, cerita konyol itu hanya dijadikan bahan banyolan saja.

Belajar di pesantren, yang memusingkan itu adalah menghapal alqur’an/hadist sekaligus ilmu tajwid. Menurut saya, itulah pelajaran yang butuh konsentrasi penuh, karena dalam rangking prestasi siswa, jika mata pelajaran ini nilai dalam raport merah, jangan harap naik kelas.

Jadi wajar saja, setiap muzakarah (belajar malam) ditengah lapangan, mulut semua siswa yang belajar dipesantren itu, komat-kamit bak sedang menghapal “mantra”. Tapi hikmah dibalik itu semua, sungguh sangat luar biasa. Sewaktu saya pindah sekolah ke Madrasah Tsanawiyah di Desa Kampar, yang namanya hapalan ayat, sudah ada dibenak saya alias sudah diluar kepala.

Sekilas saya juga ingin utarakan, pesantren tawalib bangkinang, di era tahun 70-an sampai 90-an, merupakan pesantren favorit di Riau. Siswanya dari kelas 1 sampai kelas 7, ribuan orang. Mereka tidak berasal dari keluarga di Riau daratan, tetapi juga berasal dari anak-anak keluarga yang tinggal di luar provinsi Riau.

Bagi yang berprestasi, tak jarang lulusan pesantren ini ditawarkan untuk kuliah di Universitas Kairo, Mesir. Zaman saya sekolah, setiap sisw/siswi disana, banyak yang terdoktrin untuk bisa belajar ke universitas terbesar dan tertua di dunia itu. (*)

~ oleh iselantang pada Oktober 30, 2007.

2 Tanggapan to “60 hari di Pesantren Thawalib Bangkinang”

  1. wah

  2. wah,,jadi bangga neh jadi santri daarun-tb
    mungkin sekarang dah beda daarun yang dulu ma sekarang
    daarun sekarang lebih asyik!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: