Dibuang Sayang

isel-11.jpgDILAHIRKAN pada sebuah desa terpencil yang baru mendapat penerangan listrik jaringan PLN Riau, pada era tahun 1990-an, menurut cerita kedua orang tua, Rusli (53) dan Jusni (45), kehadiran saya di muka bumi ini, pada Subuh sekitar pukul 05.40 Wib ditangan seorang “dukun beranak” yang belum terdaftar sebagai petugas pembantu bidan di Kampung. Maklumlah, saat saya dilahirkan tahun 1975, belum semua desa memiliki Puskesmas. Jadi, keberadaan dukun beranak, ibarat “malaikat” bagi orang tua kami yang melahirkan anak pertamanya.

Sebagai anak tertua dari tujuh bersaudara, saya termasuk anak yang beruntung. Kenapa tidak, saya sempat menikmati masa-masa romantis, dimana orang tua saya memiliki usaha yang sangat maju, untuk ukuran warga lainnya di kampung saya kala itu. Saya masih ingat, sebagai seorang pedagang, sayalah anak laki-laki pertama dalam keluarga besar kami, yang dibelikan sepeda mini, dan mainan mobil-mobilan, yang kalau diharga dengan uang rupiah sekarang, harganya lumayan mahal- lah.

one_1028.jpgTetapi, saya tidak bisa menafikkan, bahwa Rezeki, Jodoh dan Maut, semuanya kuasa Tuhan. Manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan. Saat usaha orang tua saya “bangkrut” kami terpaksa menjadi peladang, tinggal di kebun selama 3 tahun lebih, sampai adik perempuan kedua saya berusia sekitar 8 tahun. Kendati demikian, ingatan saya masih terus membayang, apalagi kala itu saya masih ingat, saya berangkat ke sekolah, melintasi jalan tikus, malam tidur dengan lampu teplok. Pagi, saat mata saya terbangun, dengan orang tua saya, saya sering diajak menjala ikan di pematang sawah.

Lama tinggal di kebun yang waktu itu orang tua saya mengusahakan “perkebunan jeruk manis” diatas tanah lebih kurang setengah hektar, karakter “ndeso” saya, masih terbawa-bawa sampai sekarang. Hingga sekarang, saya sulit meninggalkan kebiasaan menanam, memancing dan mempergunakan bahasa indonesia sebagai bahasa pergaulan ditengah lingkungan saya pada sebuah komplek perumahan di Batam.

Dengan sadar, saya yakin, orang yang saya ajak bicara, mereka selain diajak ngobrol menggunakan bahasa Indonesia, mereka harus belajar bahasa Kampar atau bahasa Ocu. Orang padang saja bisa menguasai dunia dengan bahasa minangnya, kenapa “orang Riau” tidak ! Inilah alasan saya membudayakan “bahasa ocu” dalam pergaulan sehari-hari saya.

PENDIDIKAN

one_1005.jpgMasalah pendidikan, saya lebih lama mengenyam pendidikan dalam kondisi kehidupan yang jauh dari orang tua. Tamat SD usia 12 tahun, saya sudah disuruh Mandiri, belajar ke pesantren di Dusun Muara Uwai Bangkinang. Namanya, Pesantren Darun Nahdha Tawalib. Tapi, pada usia yang masih terbilang “dini berpisah dengan orang yang disayangi, saya hanya bertahan 6 bulan disitu. Orang tua saya memindahkan sekolah saya pada sebuah madrasah tsanawiyah, yang jaraknya dari rumah lebih kurang 7 km.

Dari kampung, tiap pagi saya mengendarai sepeda “ontel”, berangkat konvoi-konvoi-an” dengan sahabat saya satu kelas. Tak jarang, karena karakter anak-anak yang masih kental, dalam perjalanan pulang, kami kelahi, bahkan tidak teguran untuk beberapa saat. Sampai sekarang, persahabatan saya dengan kawan-kawan satu madrasah, sangat kental, bahkan sudah saya anggap bak saudara sekandung, walaupun akhirnya dia kini bermukim di Kuala Lumpur- Malaysia.

01-1.jpgTamat MTS, kehidupan saya lebih banyak di rantau. Saya sekolah di Madrasah Aliyah Negeri 2 Pekanbaru, tinggal kos bersama kawa-kawan satu tanah perantauan di Kelurahan Kebun Sari, Tangkerang Pekanbaru. Waktu tinggal kos, saya termasuk anak perantauan yang kurang fasilitas dari kawan-kawan serumah lainnya. Tidur saja, hanya bermodal tikar plastik dari Kampung. Untuk tidur diatas kasur, menunggu kawan saya libur dan pulang kampung….uenakkk tenan…

Tapi, saat itu jujur saja saya tidak merasa minder. Apalagi, dalam berteman, saya termasuk orang yang mudah diperintah. Sebagai bawahan yang selalu diperintah masak, mencuci, dan membeli bahan masakan atau rokok, saya selalu berpikir ambil untung. Makan misalnya. Saat kawan saya memerintahkan saya untuk membelikan nasi bungkus atau telor dadar dan telor gulai, kuah gulai dan telur minimal setengah, harus ada untuk saya. Jika tidak, jangan harap, besok-besoknya saya mau membelikan mereka….(kadang geli dan menyedihkan).

one_1054.jpgTamat dari MAN 2 Pekanbaru, saya dengan modal restu dan tekad orang tua, kemudian melanjutkan pendidikan kelembaga pendidikan tinggi Universitas Riau. Saat pertama mengisi formulir, saya sudah bertekad untuk mengambil jurusan Fakultas Keguruan. Alasannya kala itu, simpel. Tamat kuliah, saya mau pulang kampung, mengajar dimana saja. Tapi, setelah tamat, saya hanya 2 kali mengajar. Pertama, saat PKL di SMU 8 Pekanbaru, dan menjadi guru honor mengajar anak kelas III Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Pekanbaru.

T api, karena gaji honor yang saya terima hanya Rp 84 ribu perbulan pada tahun 1999, akhirnya saya cabut mengajar, dan memutuskan untuk menjadi pendidik dalam artian luas, yaitu menjadi Wartawan Koran Harian di Pekanbaru, yaitu Harian Riau Mandiri, koran lokal milik Pengusaha Minang, Basrizal Koto. Sebelumnya, saya pernah ikut testing calon wartawan di Harian Riau Pos Pekanbaru, tapi gagal pada test terakhir dengan Bpk,Muslim Kawi.

Saat di Riau Mandiri , saya ditugaskan ke Siak. Tinggal pada sebuah rumah apung di pinggiran Sungai Siak. Yang mengesankan kala itu, saya betul-betul disuruh tuhan menikmati kehidupan orang susah di Siak. Tinggal di rumah gubuk, mandi air sungai Siak yang sudah tercemar limbah buangan pabrik karet, pabrik kertas indah kiat dan RAPP, serta perusahaan sejenis lainnya di hulu sungai.

1barelang3.jpgMakanya, ketika saya mendengar pada pertengahan tahun 2007 lalu, presiden SBY meresmikan jembatan SIAK, sebagai sarana penghubung ke kota Siak dan sekaligus penghalang bagi kapal tanker pengangkut hasil produksi perusahaan pencemar sungai Siak, secara pribadi setuju jika Sungai Siak disterilkan dari segala bentuk aktifitas pabrik di hulu sungai SIAK. Kalau seandainya pemerintah provinsi Riau ingin membangun lokasi pabrik yang lain, bangunlah di Pulau Buton, karena aksesnya ke laut, dan mudah dijangkau dari kota lainnya di Riau termasuk di Kepri.

batam-senja.jpgKini, setelah meninggalkan Kampar dan Pekanbaru, saya menetap di Kota Batam, bersama 1 orang istri dan dua orang anak perempuan. Walaupun usia mereka masih balita, tantangan hidup kami masih belum berakhir. Dan bagi saya, kebahagiaan hakiki itu, bukan hanya terletak pada materi saja, tapi juga terletak pada keikhlasan hati kita menerima sebuah keadaan. Bagaimanapun juga, kekayaan, kekuasaan dan lainnya, itu semua tak bisa kita kejar. Tanggungjawab kita hanya berusaha dan berdoa. Soal berapa banyak rezeki yang diberikan Tuhan, itu urusan Dia. Karena Dialah yang tahu, kalau kita diberi rezeki yang lebih, kita akan takabbur atau sombong. Nauzubillahi minzalik. Ya, Allah, ampunilah hamba-Mu ini, Amin. (*)


12 Tanggapan to “Dibuang Sayang”

  1. Apo cito cu?

  2. sehat ajo… dimano ang kini…? Pokan atau di Batu Aji…siko bini ang..

  3. Ooi Cu.. panjang bondo tulisan Ocu.. Long story lah agaknyo tu.. :-)
    Salam kenal kembali.. blog bang Ise aku link he? begitu pula sebaliknya, hendaknya..
    wslm.

  4. Keren yah jembatannya…macam di luar negeri :D

    om, boleh minta ajarin ilmu ikhlas? i need it..

  5. memmmhh….sukses selalu

  6. Berkarya terus cu….,
    tambah stamina Ocu..

  7. Salam kenal, sesama pecinta Batam dan Indonesa, Basodara

  8. mantap cu

  9. bangga deyen ado jo cuito uwang ocu di website

  10. salam dari uwang ocu di jogjakarta, sukses selalu untuk alumni man 2, bilo ado wakotu bisa buat reuni uwang ocu man 2 pekanbaru

  11. mantap cu …..berkarya towi…..

  12. oke cu tancap terus………………………….salam dari budak sungai apit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: