Kawan Kecil

MELALUI sambungan telepon, dengan jantung berdegup, saya coba menghubungi seseorang yang saya kenal. Ia sungguh membuat pikiran saya tidak tenang malam itu. Toh selama ini kami hilang komunikasi lebih kurang 10 tahun. Dia jauh, saya pun begitu. Persebatian kami, sebenarnya lebih dari persebatian seorang sahabat. Ada yang istimewa memang. Tapi, seperti yang saya kenang, persebatian dua anak manusia itu, mau tidak mau, harus kami kubur dalam-dalam.

Dari apa yang kami ceritakan, banyak kerinduan yang terpendam. Walaupun saling sapa dan tegur, jujur saja, kerinduan itu belum bisa saya obati karena kekecewaan itu tercampur aduk dengan “ketidakmampuan” saya menerima kenyataan.

Pada pertelingkahan batin yang sedang terjadi, jujur saya sampaikan, saya terlalu gamang melupakan beragam kenangan yang telah terjadi. Dia, bagi saya sangat berarti. Tapi satu hal, saya tidak akan menyesalinya dalam waktu yang terjadi sekarang. “Bukan, tak ada yang mengkhianati persahabatan kita. Ini semua adalah takdir,”

Namun, walaupun saya tau takdir itu ada, apakan manusia tidak boleh meminta kepada Tuhan, perubahan takdir hidupnya? Saya rasa, Tuhan tidak akan sekejam itu. Dia adil, maha tahu, penuh rahmat dan kasih sayang. “Apapun kondisinya sekarang, cukup kerinduan itu bersemayam dalam hati kita. Jangan diungkit-ungkit lagi. Apa yang ada sekarang, mari kita jalani saja. Kalau tuhan berkehendak, kerinduan kita pasti terobati,” kata kawan kecil yang selalu saya ingat dan kenang itu (*)

~ oleh iselantang di/pada Nopember 3, 2007.

Tinggalkan Balasan