header image
 

Menggagas Batam Cyber Island

MINGGU kemarin (13/7/2008), sekitar jam 20.00 Wib, handphone selular yang saya taruh diatas kulkas berdering beberapa kali. Sebelum tanda OK saya pencet, saya melihat pada layar, panggilan dari  Farhan, rekan di kantor. Ada apa ya? Pikir saya waktu itu.

Rupanya Farhan memberi kabar bahwa rekan-rekan pemilik blog di alam maya, tengah ngumpul dengan “penggila IT” senior, bang Ria dan bang Mulyanta (Kepala Telkom Riau Kepulauan). Biasalah. Mereka rupanya bikin event kelima, Ngopi darat plus, plus, plus. Saya pun diajak untuk gabung.

“Okela. Ntar abang nyusul. Barusan habis cuci motor. Setelah mandi, baru abang cabut, han” menjawab telpon Farhan di atas teras.

Kasihan meninggalkan anak, saya lantas mengajak mereka pergi. Tawaran itu rupanya membuat mereka gembira, dan saking senangnya anak saya nomor 2, Adinda Saujana Fadza (2,1 thn), bergegas ganti baju, dan sempat menangis karena takut tak diajak.

Hal yang sama juga dilakukan putri pertama saya, Azra Saujana Fadza (5,3 thn). “Udahlah cepat ganti bajunya. Nggak usah nangis lagi,” bujuk saya waktu itu.

Sesampai di Engku Putri, saya melihat kawan-kawan yang ngadain Kopdar tengah serius mendengar “celotehan” bang Ria. Kepada ajudannya, Sulton, saya sempat nanyak. Sulthon bilang acaranya baru mulai. Syukurlah jawab saya dalam hati.

Dipertemuan itu, saya melihat wajah Ricky Indrakari. Ketua DPC PKS Kota Batam itu ternyata juga blogger. Begitu juga dengan anak Bang Ria dan istrinya. Bagi Anda yang ingin kenalan lebih jauh, coba aja klik disini, www.rindrakari.wordpress.com atau www.suparti.blogspot.com dan www.zhafir.blogspot.com.

Bicara pengembangan IT di dunia maya, rupanya bang Ria punya obsesi luar biasa. Sarjana ISTN Jakarta itu bercita-cita menjadikan Pulau se Batam ini sebagai “kota modern” dengan jargon baru “Kota Cyber Island”.

Saya pun “terbengong2” mendengar pemaparan beliau tentang konsep tersebut. Dalam hati, saya hanya bisa berujar, mudah-mudahan obsesi bang Ria cepat terealisasi, amin.

Keinginan bang Ria sebenarnya “sepinggan” dengan cita-cita besar Bang Mulyanta, tamu khusus dari PT Telkom Riau Kepulauan.

Orang nomor satu di Telkom Rikep itu, agak lebih dahsyat lagi menceritakan, PT Telkom ingin memperluas jaringan dengan memperkenalkan ikon baru gugusan pulau yang membentang dari Sabang Aceh sampai ke ujung karang Pulau Nipah yang bertetangga dengan S’pura di Kepri dengan sebutan kerennya, “Sumatera Cyber Island,”. Namun cita cita besar itu akan di “elu-elukan” setelah sukses membuktikan konsep “Batam Cyber Island”.

“Kami ingin memulainya. Dan kami mohon dukungan dari para rekan blogger Batam,” sebut Mulyanta optimis.

Perbincangan semakin menarik. Malam pun semakin larut, walaupun bang Ria, saat itu kelihatannya enggan pulang ke rumah.

“Saya mengajak rekan blogger menyukseskan program ini bukan karena antara kita ada kepentingan. Tawaran ini saya sampaikan karena saya melihat, rugi kiranya kalau sebagai kawasan bertetangga, penerapan IT di Batam jauh tertinggal dari Singapura atau Malaysia. Tentang SDM, tak usah ragu. Begitu juga infrastruktur,”

” Telkom selalu berupaya mengupgrade tekhnologinya untuk mempersiapkan cita-cita besar tersebut,” komentar Mulyanta di Forum kopdar yang disertai acara santap sate, gorengan dan martabak itu.

Nah, sekarang tinggal kita. Seperti pepatah, apakah tawaran baik ini hanya akan di anggap sebagai fatamorgana ? Entahlah. Dan hanya itu jawaban untuk saya hari ini. (*)

Mak Erot, Nama Kecil Yang Melegenda

Kamis siang pertengahan bulan Juli kemarin, ketika berselancar ke detik.com, saya menemukan info baru mengenai mak Erot, perempuan Sunda yang memiliki keterampilan khusus “menggadang-gadangkan” si Anu.

Saat itu saya nggak begitu “ngeh”. Tetapi yang jelas, detik menyampaikan bahwa Mak Erot meninggal dunia. Ketika saya berada di mega portal kompas.com, lagi-lagi, info mak Erot kembali saya temukan pada laman web milik anak perusahaan Jakoeb Oetama itu.

Bagi saya, Mak Erot pantas digadang-gadangkan sebab profesi seperti itu terbilang langkah. Seorang teman, ketika berseloroh dengan saya bilang, duka mak Erot duka bagi perempuan dan laki -laki yang menyukai hal-hal yang sangat spektakuler.

Saya tak akan mengulas cara Mak Erot membilas anu Anda. Yang ingin saya sampaikan, kok bisa, orang seperti mak Erot, berhasil membranding dirinya sebagai figur sentral dalam urusan membesarkan si “Anu”.

Ketika membuka laman kompas.com, saya membaca, jauh hari sebelum meninggal dunia, Mak Erot sudah mewariskan ilmunya itu kepada salah seorang anggota keluarganya. Tapi entah kenapa, untuk yang satu ini, nama Mak Erot jauh lebih populer dibandingkan nama anak atau cucunya.

“Asisten emak saya adalah anak dan cucu emak sendiri,” begitu dalil cucu mak yang saya baca di laman web indospiritual.com.

Lantas apa sebenarnya yang menjadi kekuatan Mak Erot..? Pertanyaan ini terus menggelitik hati saya untuk mencari tahu. Jawaban sekenanya, mungkin sebutan Mak Erot lebih gampang di ingat.

Setakat itu, jika nama Anda kurang asyik, saran saya sebaiknya jangan ganti. Mak Erot saja tahan. Bila nasib berubah, mana tahu nama yang di doakan orang tua Anda itu melegenda seperti  Gepeng, Dono atau Basuki. Siapa tahu.. Iya nggak… he…he…(*)

Seks sebagai Simbol Perubahan Politik Malaysia….

Suhu politik di malaysia kelihatannya panas. Orang melayu malaysia yang dulunya jarang demo, kok tiba-tiba ‘jadi ganas’ seperti di Jakarta.

Perubahan iklim ’semasa’ ini, bagi saya merupakan awal dari kebangkitan demokrasi malaysia,yang sememangnya harus berani dilakon. Permulaan ini harus di awali secara baik, jangan sampai menghancurkan kejayaan malaysia.

Sebagai pemerhati, saya kok tiba-tiba trenyuh melihat perubahan politik dalam negeri malaysia yang diawali dengan simbol seks. Menuding Anwar Ibrahim sebagai pria gaek ‘penyodomi’, bagi saya adalah kekerasan politik.

Wacana yang terungkap di media, walaubagaimanapun telah merusak peradaban Malaysia yang terkenal santun dan agamais.Skenario politik ’syahwat’ jangan diumbar, harus dibuang jauh-jauh.

Pejabat yang bersiteru, sebagai suri tauladan, Anda sudah saatnya memberikan contoh yang baik terhadap rakyat. Voice of democracy in Malaysia harus tampil molek seperti Siti Nurhalizah yang terkenal santun itu.(*)

*************

Cubaan Wujud Persepsi Negatif Rakyat Satu Pengkhianatan, Kata Abdullah

PUTRAJAYA, 7 Julai (Bernama) — Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi berkata cubaan untuk mewujudkan persepsi kurang selesa dan tidak yakin dalam kalangan rakyat melalui internet dan SMS dengan mengetepikan prinsip Rukunegara sebagai satu perbuatan khianat.

Perdana Menteri berkata prinsip-prinsip Rukunegara seperti Kesetiaan Kepada Raja dan Negara, Keluhuran Perlembagaan, Kedaulatan Undang-undang dan Kesopanan Kesusilaan telah dinodai dalam cubaan itu yang dibuat melalui blog, YouTube, dan khidmat pesanan ringkas (SMS).

“Cerita penyebaran fitnah dan pembohongan dari blog dan YouTube, semua ini tidak lahirkan keselesaan dan keyakinan pada rakyat,” katanya pada Perhimpunan Bulanan Jabatan Perdana Menteri di sini.

“Cakap-cakap kebenaran undang-undang tidak dihiraukan lagi. Kesopanan dalam kehidupan tidak diambil berat lagi. Kedaulatan Raja-raja jadi isu,” katanya.

Abdullah berkata bukan semua rakyat percaya dengan persepsi negatif yang cuba ditimbulkan itu tetapi semakin ramai yang seolah-olah terperangkap dalam situasi itu.

“Apa tindakan yang tunjukkan yang benar, tidak dihargai, (sebaliknya) yang dihargai ialah persepsi termasuk pembohongan yang berlaku.

“Persepsi ketepikan kebenaran. Apa yang benar tidak dikisahkan lagi. Yang penting persepsi,” katanya.

Abdullah berkata ia telah mempengaruhi sikap dan pilihan dalam membuat keputusan sesetengah pihak termasuk yang berhubung kait dengan pelaburan dan perniagaan.

Beliau berkata perkara itu mesti diperbetulkan tetapi malangnya ia menjadi perkara yang sangat diminati oleh rakyat sehingga menjadi buah mulut pula serta mereka memanjang-manjangkan pula cerita.

“Rakyat hendaklah diamankan daripada takut (berlaku) kurang makanan. Rakyat hendaklah diamankan daripada sebarang ketakutan terhadap keselamatan diri dan keluarga,” katanya.

Abdullah berkata negara baru selesai melalui proses demokrasi dan kerajaan telah diberi mandat untuk memimpin negara. Kerajaan, katanya, berharap dapat melaksanakan apa jua yang dihasratkan oleh rakyat.

Beliau berkata kerajaan telah dan akan mengambil langkah-langkah untuk mengurangkan beban rakyat walaupun timbul keresahan ekoran kenaikan harga minyak. “Rakyat mesti yakin terhadap usaha-usaha kita,” katanya.

Perdana Menteri meminta pihak penguatkuasaan undang-undang terus bertegas dalam memelihara keamanan dan keselamatan di negara ini. “Hentikanlah laku apa yang tidak baik. Rakyat mesti tunjukkan tanggungjawab yang tinggi. Jayakan keamanan keutamaan kita,” katanya.

– BERNAMA

Catatan Lepas Seorang Cewek Praktisi Humas

Saya barusan menerima kiriman email dari rekan humas PLN Batam. Dia saya rasa sedang mengeluarkan uneg-unegnya lewat surat elektroniknya. Doa saya, mudah-mudahan dia baik-baik saja. Email yang ia tulis, menggugah saya untuk memberikan sebuah komentar.

Sebab rupanya, masih banyak individu yang menganggap profesi kehumasan, profesi yang harus mengedepankan seorang sosok cantik. Berbeda dengan penafsiran saya. Cantik sih boleh, tapi maaf dia harus cantik luar dalam.

Bagi saya, seorang PR tak perlu ganteng atau cantik. Seorang PR dia bisa bermodal cekak, atau pas-pasan. Hal yang mesti dipahami seorang PR handal, cuma satu kalimat. Setelah ini, ide gila apa lagi ya…? Jika itu bisa dilakoninya secara berulang, tidak tertutup kemungkinan ia akan dianggap berhasil dalam bekerja.

Ini soal kecantikan. Saya punya pengalaman pribadi yang menarik. Saya pernah menjumpai seorang praktisi humas sebuah perusahaan berkelas di Pekanbaru yang menurut saya dia jago. Kenapa, karena wajahnya nggak cantik-cantik amat. Cantikan istri saya, hemat gue. Tetapi, dia kreatif. Inner beutynya keluar, saat dia memberikan sebuah pemahaman atas sebuah permasalahan kepada saya. Lha, yang cantik sekarang yang mananya? Kecantikan wajah, atau rasa yang saya rasakan…?

Menjadi praktisi humas, secara pribadi memang bertolak belakang dengan prilaku manusia yang memiliki rasa idealisme didalam dirinya. Bayangkan, sesuatu hal yang menurutnya janggal, sesuai SOP, dia harus menjelaskan secara runut persoalan B. Artinya, ia harus mampu melakukan sebuah rekayasa permasalahan. Lha, apakah dalam hal-hal seperti ini, kecantikanlah yang harus di tonjolkan?

Ilustrasi lain begini. Seorang pejabat humas, dalam sebuah forum tengah dicecar oleh public tentang kinerja lembaganya. Dia cantik. Tapi dalam forum itu, ia hanya bisa senyum alias tebar pesona. Sama sekali ia tidak bisa mengendalikan audiens. Lantas, apakah dengan perbuatannya ia bisa membangun citra perusahaannya. Saya rasa tidak. Justru perusahaannya akan rugi, karena menurut audiensnya, si anu hanya bisa nampang doang. Nggak smard sama sekali.

Justru saya salut dengan guru tua waktu saya MDA dulu. Dia orang miskin. Tapi dia disegani di seantero kampung. Modalnya cuma memberikan salam, dan menanyakan kondisi orang yang ia jumpai. Pertanyaan dan jawaban yang ia berikan ikhlas. Orang sama sekali tidak melihatnya sedang basa-basi. Saya anggap PR yang berhasil. Semua orang kampung juga bilang begitu. Sejelek apapun anggapan orang terhadap dia, dia tetap datar menanggapinya. Saya melakukan ini karena Allah,SWT. Begitu jawab dia.

Oleh karena itu, cantik bukan jaminan sebuah lembaga bisa membangun kepentingannya. Seperti ikon semen padang. Kita harus bisa berbuat, ketika orang lain masih memikirkannya. Pertanyaannya, apakah boss kita sanggup? Ide gila itu, tidak hanya gila hasilnya, tetap juga mahal bung..!

*****************
Ini Dia Surat Elektronik Kawan Praktisi Humas Itu

Belakangan saya merasa sangat tertarik untuk mengungkap fenomena seperti yang tertera dalam artikel tulisan saya dibawah ini. Moga2 bisa jadi bahan share untuk kita-kita dan kedepan makin banyak pengurus dan anggota yang mulai tertarik untuk mengungkapkan hal-hal seputar PR lewat sebuah tulisan.

Siapa Bilang PR harus Wanita Cantik

Sebagai salah satu wanita yang ‘bergelut’ dalam dunia ke ‘PR’-an di Batam, saya kok ya tiba2 merasa sangat tertarik (baca=terpanggil) untuk menulis tentang fenomena PR dan wanita cantik. Kenapa begitu ? karena sejujurnya saya sering kali mendengar - sampai kuping panas bahkan… bahwa somehow, status saya sebagai wanita seringkali dianggap sebagai nilai plus dalam menjalankan profesi PR dibandingkan dengan temen2 PR lainnya yang kebetulan berjenis kelamin pria. Sehingga keberhasilan saya (kalau memang ada) dalam menjalankan strategi PR lebih dipersepsikan dan dikarenakan saya seorang PR wanita bukan karena saya PR yang handal.

Sebenarnya apa saja sih yang dibutuhkan dari seorang PR ?

Sejak reformasi di dengungkan dan semakin meningkatnya sensitivitas masyarakat terhadap pemberitaan media, berbagai perusahaan - dari pemerintahan, BUMN, hotel sampai lembaga pendidikan dan organisasi sosial seakan-akan berlomba-lomba membentuk Divisi Public Relations, Humas, atau Corporate Communication Division untuk membentuk citra perusahaan atau yang lebih ekstremnya jadi ‘pemadam kebakaran’. Sayangnya, meskipun PR merupakan profesi yang dinamis dan kreatif, kadang masih ada yang berpendapat bahwa seorang PR hanya mengandalkan wajah cantik dan senyum manis dalam bekerja.

Mitos
PR = beautiful girls in skirt

Dalam buku yang sempat menghebohkan industri komunikasi dan advertisisng : The Fall of Advertising and The Rise of PR, Al Rise dan Laura Ries menyebutkan bahwa “ PR merupakan fungsi manajemen yang menggunakan perencanaan dalam melaksanakan program untuk menghasilkan persepsi yang baik tentang sebuah subjek dari masyarakat. Ini membuktikan bahwa pekerjaan PR merupakan pekerjaan serius, konsisten, terus-menerus, tidak kenal waktu dan kadang menjadi sangatmelelahkan.

Untuk menciptakan sebuah persepsi yang baik terhadap perusahaan, objek maupun individu, sehingga dapat diterima masyarakat, seorang PR harus dapat memahami karakter orang lain dan sensitive terhadap kejadian disekitarnya. Seorang PR juga dituntut untuk tahu kapan dan bagaimana harus berkomunikasi.

Bayangkan jika seorang PR wanita sebuah perusahaan listrik di Batam yang juga seorang istri dan ibu harus siap menerima setiap keluhan pelanggan pada jam berapa pun, pukul 2, 3, bahkan 4 subuh dan harus selalu siaga turun kelapangan at any time and any cost jika terjadi gangguan listrik ke pelanggan sesuai dengan SOP perusahaan.

Jadi sebaiknya mari kita sama-sama jauhkan anggapan bahwa PR itu harus wanita cantik, tinggi, wangi, seksi, punya senyum maniiiiissssss banget, pake’ rok pendek dan sepatu high heels (hak tinggi) karena pasti capek mondar-mandirnya, trust me guys…….

Dan bagi wanita-wanita yang berprofesi sebagai PR yang kebetulan memiliki kelebihan seperti yang saya gambarkan diatas (cantik, seksi, wangi, punya senyum yang manis banget, dll…..) ya disyukuri saja sebagai salah satu anugerah dan nilai lebih yang tidak akan pernah dimiliki oleh pria……….

Fakta : PR is not simply looking pretty

Dari paparan saya diatas, rasanya cukup untuk menggambarkan keahlian apa yang sebenarnya dibutuhkan seseorang untuk menjadi seorang PR . Seorang PR harus belajar untuk mengerti dan sensitive terhadap karakter manusia sekaligus membaca situasi kapan dan bagaimana mengkomunikasikan sesuatu. Selain menjadi komunikator di garda depan, seorang PR juga harus mampu menjadi penulis ‘skenario kreatif’ dibelakang layar.

Berwajah cantik saja sekali lagi bukanlah merupakan syarat mutlak untuk menjadi seorang PR – meskipun hal ini merupakan nilai lebih. Coba bayangkan, betapa menyenangkannya jika kita sakit kemudian kedokter yang (kebetulan) ganteng, harum, ramah, punya senyum yang maniesssss dan tangannya halus…………pasti akan lebih mempercepat proses sugesti penyembuhan penyakit selain obat-obatan tentunya. Begitu juga dengan seorang PR yang kebetulan manis dan menyenangkan (seperti saya, hwahahahahaha….).

Cheerssss

Ade Sulistiani

Public Relations

PLN Batam